DOA: ANTARA AKU, TUHAN, DAN SESAMA


24 Oktober 2010, 43/Th.C/II/10

Saudara-saudari seiman,

Permenungan Minggu Biasa XXX berinspirasikan dari Injil Lukas 18:9-14. Tuhan Yesus mengajak kita untuk melihat kembali bagaimana kita menempatkan diri bersama sesama, dan di hadapan Tuhan. Relasi kita dengan Tuhan dan sesama merupakan isi dari doa. Dalam doa, pertama-tama dan utama, kita ingin mengungkapkan dan menyatakan iman di hadapan Allah. Doa tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari dan hidup bersama dalam masyarakat. Doa pada dasarnya berarti mengangkat hati, mengarahkan hati kepada Tuhan, menyatakan diri anak Allah, mengakui Allah sebagai Bapa. Doa adalah kata cinta seorang anak kepada Bapanya. Maka doa dapat timbul dari kesusahan hati yang  bingung, tetapi juga dari kegembiraan jiwa yang menuju ke masa depan yang bahagia (Iman Katolik hal. 194).

Orang Farisi dan Pemungut Cukai

”Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai” (ayat 10). Orang Farisi dan pemungut cukai memiliki tujuan yang sama yaitu berdoa. ”Dalamnya laut bisa diduga, dalamnya hati siapa yang dapat menduga?” Apakah yang bergumul dalam hati saat berdoa? Marilah kita melihat isi hati dari orang Farisi dan pemungut cukai. Orang Farisi merasa sangat yakin dengan apa yang akan ia doakan, merasa mendapat ”perlakuan istimewa” dari Tuhan dan mengingatkan Tuhan akan ”amal baiknya”. Sangat kontras dengan pemungut cukai. Ia berdiri jauh-jauh karena merasa diri tidak pantas berdoa dekat dengan orang Farisi apalagi dekat dengan Tuhan. Berhadapan dengan Yang Mahakuasa,   membuatnya    merasa    gentar.  

Dalam hatinya berkecamuk dua rasa: ada dorongan untuk menghadap Tuhan, tetapi disisi lain tidak ada hal yang  dibanggakan di hadapan Tuhan selain perasaan sebagai pendosa. Pemungut cukai pulang ke rumah sebagai orang yang dibenarkan Allah dan yang lain tidak (ayat 14).

Tuhan Yesus, Sang Guru memberikan pembelajaran bahwa fokus doa adalah Allah, bukan diri sendiri. Kita sering merasa berhak untuk dekat dengan Tuhan dan menerima banyak berkat dengan malakukan banyak tindakan saleh. Kita akan mengalami hambatan dalam iman kalau merasa diri benar dan menganggap orang lain salah, kita mengambil jarak dengan sesama. Marilah kita memupuk rasa rendah hati tanpa merasa rendah diri, dan mohon terang Roh Kudus agar semakin dekat dengan Tuhan dan sesama.

Salam dan berkat,

Pastor L. Setyo Antoro, SCJ.

Sumber, dan berita warta paroki lain silahkan download: 24 Oktober 2010_LD.

Pos ini dipublikasikan di Buletin, Renungan Harian, Warta Paroki dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s