MEMULIAKAN TUHAN DENGAN BERSYUKUR


10 Oktober 2010
41/Th. C/II/10

Bapak/Ibu yang terkasih,
Ada kebiasaan bagus yang diajarkan dan dilatihkan oleh para ibu kepada anak-anaknya, yaitu: “mengucapkan terima kasih!”. Contoh: Kalau anaknya diberi sebatang coklat oleh eyangnya, dan si anak menyambut dengan tangan kirinya. Ibunya langsung berteriak, ”ee….dengan tangan manis dong, maksudnya dengan tangan kanan!”. Serta merta sang ibu melanjutkan:”ayo..bilang apa sama si eyang? Si anak menyahut: “terima kasih, eyang!”. Pendidikan dan pelatihan “mengucapkan terima kasih”, sepertinya hal sepele dan biasa-biasa saja, tetapi mengandung “nilai etiket, nilai moral, nilai budaya dan rohani yang sangat mendalam!”.

Bapak/Ibu yang terkasih,
Berita Injil hari ini, Yesus menyampaikan pesan penting bagi kita semua. Yesus sangat menghargai satu-satunya dari 10 penderita kusta yang disembuhkan. Seorang kembali kepada Yesus, tersungkur menyembah Yesus: “mengucapkan terima kasih, dan bersyukur kepada Yesus atas penyembuhannya!”. Sikap ini tidak lain daripada “Memuliakan Allah!”. Bahwa Allah dalam Yesus adalah satu-satu-Nya Penyelamat dan Pentahir penyakit kusta.
Ada dua hal yang pantas kita renungkan:
Pertama    : Sangat pantas, kita setiap hari berterima kasih sambil mengucap syukur atas karunia kehidupan kita, daripada mengeluh dan mencela, berpikir negatif, ngomel, ngerumpi sembarangan. Sebagai putra-putri Tuhan Yesus, mari berpikir positip dan bertindak baik dan pantas dengan sesama seiman dalam Yesus, Penyelamat, Sang Gembala Baik.
Kedua    : Ungkapan Syukur dan berterima kasih, bermakna rohani yang mendalam “Memuliakan Allah!”. Itulah yang dibuat oleh Naaman (lihat bacaan pertama), yang disembuhkan oleh Nabi Elisa dan orang Samaria, yang disembukan oleh Yesus.

Bapak/Ibu yang terkasih,
Semoga kita para pembaca artikel renungan ini, menjadi anak-anak Tuhan yang tahu “Bersyukur, terima kasih dan senantiasa memuliakan Tuhan!”,  dengan menghayati ajaran-Nya, terutama “Hukum Kasih-Nya!”, dalam penghayatan hidup bersama, contoh: “iklas menolong, dan siap membantu saudara-saudari seiman yang sedang susah, sakit dan menderita, miskin dan dihina, dikucilkan dari lingkungan.
Mereka itulah yang pantas kita tolong tanpa pamrih (memberi bantuan tanpa mengharapkan imbalan), seperti yang dibuat oleh Yesus, Sang Gembala Baik dalam menyembuhkan 10 orang kusta. Tuhan memberkati!

Jiwa ku memuliakan Tuhan! (Lk. 1:46)
Pastor St. Endrokaryanto, SCJ.

Sumber, dan berita warta paroki lain silahkan download di: Warta Paroki 10 Oktober 2010.

Pos ini dipublikasikan di Renungan Harian, Warta Paroki. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s