Sharing pengalaman perjalanan ke Ambon-Banda Neira-Makassar


Kawan kawan Lingkungan Felicitas,

Saya ingin membagi pengalaman saya mengunjungi Ambon, Banda Neira dan Makassar dari tgl. 24 April s/d 8 Mei 2009.  Kami berempat: saya, isteri dan besan kami dari Perancis bersama dalam perjalanan yang diatur oleh Inbound Travel agent.  Kami berangkat tgl. 24 April jam 01:30 dengan Lion Air ( Pesawat baru) langsung Jakarta – Ambon dan tiba sekitar jam 6:45 di Bandara Pattimura.

Di Ambon kami mengunjungi beberapa obyek wisata, termasuk kunjungan ke Sacred Eel dan Pekuburan ANZAC yang sangat terawat dan indah, kebetulan peringatan ANZAC jatuh pada tanggal 25 April, ketika kami berada di Ambon. Saat itu kegaiatan pengamanan dari militer cukup banyak, karena menghindari usaha pengibaran bendera RMS pada saat itu.

Kota Ambon sudah cukup aman, namun sedihnya sudah ada pemisahan antara daerah Kristen dan daerah Islam, padahal dulu ada perjajnjian PELA bagi warga Ambon, perjanjian PELA konon adalah kesepakatan dari nenek moyang orang Ambon tentang kerukunan antar agama, namun telah dilanggar karena hasutan dari pihak pihak luar.

Kami melihat beberapa Gereja yang sudah terbakar habis dan  sudah dibangun lagi, malah kata pemandu wisata kami, ada yang 2 kali dirubuhkan dan dibangun lagi.

Ketika kami bertanya tentang Gereja Katolik yang dibakar, mereka mengatakan bahwa tidak ada satu pun yang dirusak. Jadi yang dirusak itu adalah Gereja Kristen yang bukan Katolik.

Kami sempat ikut dalam misa hari Minggu tgl. 3 Mei di Gereja Kathedral yang cukup bagus, yang pernah saya kirimkan foto bagian depan dan altar nya.

Kami berangkat tgl. 26 April, hari Minggu dari Ambon ke Banda Neira dengan pesawat Merpati CN212 yang berkapasitas 20 orang dan hanya seminggu sekali, routenya Ambon-Banda Neira-Pulau Seram-Banda Neira-Ambon. Jadi andaikata pesawat saat mau kembali ke Ambon dibatalkan, maka hanya ada 2 alternatif, menunggu kapal Pelni atau menunggu kesempatan seminggu lagi. Namun kami beruntung, semuanya sesuai rencana. Kami kembali ke Ambon tgl. 3 Mei hari Minggu juga.

Tiba di Lapangan Terbang Banda Neira yang diperuntukkan pesawat kecil, kami digonceng sepeda motor ke Guest House dan koper dibawa oleh becak, karena hampir tidak ada mobil di Banda Neira. Mobil mungkin hanya 2 saja untuk keperluan pelabuhan dan instansi pemerintah, sebab toh kotanya sangat kecil, bisa jalan kaki keliling kota.

Setiap hari kami berwisata ke pulau yang berbeda, meninjau perkampungan, benteng bersejarah dan snorkling di laut yang luar biasa jernihnya. Juga kami berkesempatan mengunjungi perusahaan pemeliharaan kerang mutiara di Pulau Banda Besar yang sudah mampu mengembang biakkan kerang itu mulai dari telur ( yang melekat pada potongan tali biru dan diberi makanan planton yang dikembang biakkan), hingga mencapai usia produktif selama 5 tahun.

Kepulauan Banda ini terdiri dari beberapa pulau seperti: Banda Neira, Banda Besar, Gunung Api ( pernah meletus th 1988 dan semua penduduk diungsikan ke Ambon), Hatta, Syahrir, Ay, Run dan beberapa pulau kecil lainnya. Semua Pulau bergunung, sehingga satu satunya yang memungkinkan dibuat lapangan terbang hanya di Pulau Banda Neira dalam arah melintang dengan panjang kira kira 1km saja. Bung Hatta dan Syahrir pernah lama diungsikan di Banda Neira dan kami sempat mengunjungi rumahnya yang masih dipelihara baik.

Di Banda Neira ada penginapan yang dikelola oleh Bapak Des Alwi, yang juga membangun museum dan pemeliharaan tempat tempat bersejarah.

Di Banda ini, juga semua gereja sudah tidak berfungsi lagi, kecuali yang ada di Pulau Ay, dimana masih ada beberapa keluarga Kristen. Di Banda Neira, gereja yang sangat bersejarah sudah dirusak tapi sudah diperbaiki oleh pemerintah, namun hanya sebagai obyek wisata saja, seperti terlihat pada sebuah foto diatas. Ada juga sebuah kelenteng tua yang maish dipakai.

Menurut sejarah th 1598 kepulauan Banda dikuasai pertama tama oleh Portugis dan kemudian diambil alih Belanda, namun Inggeris menguasai 2 pulau yaitu Pulau Run dan Ay, akhirnya terjadi deal tukar menukar antara pulau itu dengan Manhattan ( New York ), jadi Belanda menguasai penuh seluruh Banda dan Inggeris mengambil Pulau Manhattan. Belanda waktu itu merasa beruntung, karena harga Pala waktu itu bernilai sama dengan Emas di Eropah. Deal lain antara Belanda dan Inggeris kalau tidak salah adalah Bengkulu dan Singapura.

Buah pala yang terlihat difoto, kulit luar yang berwarna kuning dijadikan manisan pala, bagian yang berwarna merah biasa dibuat juga manisan dan konon dipakai oleh perusahaan minuman Coca Cola, sedangkan biji yang berwarna hitam dikeringkan dan dipecahkan kulit luarnya dan terdapatlah pala yang dipakai untuk penyedap sup atau makanan lainnya. Pohon Pala ditanam dibawah pohon kenari, agar dilindungi dari terik matahari yang terlalu keras. Menurut seorang tua yang menjaga benteng di pulau Banda Besar dimana terdapat “hutan” pohon Pala ( NUTMEG ), saat ini produksi Pala sudah jauh menurun dibandingkan dengan zaman Belanda dulu.

Di Ambon berlaku perkataan ini : “ MAKAN SENG MATI, SENG MAKAN JUGA MATI”  apakah dimengerti maksudnya?

Saya lampirkan info dan foto foto tentang perjalanan ini.

Keterangan foto dgn nomor belakang: 163-216 Ambon, 227-257 Banda Neira, 289 Pulau Gunung Api, 312-343 Banda besar, 276 Benteng di Banda Neira, 368 Pulau Ay, 404 Pulau Syahrir, 413-415 Pulau Banda Neira dilihat dari Pulau Gunung Api, 426 Peta Banda, 430-431 Buah Pala, 432 Benteng di Banda Neira, 433 Jacques Costeau ( ahli kelautan Perancis  yang terkenal –almarhum ) pernah ke Banda, terlihat bersama Des Alwi, anak angkat Hatta dan Syahriri, 483 Penjual durian di Ambon-bukit Sirimau, 487 mancing di laut 12km didepan kota Makassar, Gua purba di Leang-Leang, dekat kota Makassar.

Semoga berguna.

Ben Usagani

Pos ini dipublikasikan di Buletin. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s