Agama dan Etos


Jansen Sinamo menilai bahwa bangsa Indonesia yang merupakan bangsa beragama sebenarnya memiliki potensi etos yang baik. Agama memberi orientasi dan makna hidup. Agama memberikan nilai-nilai pegangan dan tuntunan dalam hidup sehingga menjadi standar-standar perilaku, tidak hanyut dalam keputusasaan, dan kejahatan. Sejarah peradaban telah menunjukkan bahwa nilai-nilai yang menjadi pegangan masyarakat sekarang seperti toleransi, saling menghargai, saling mencintai dan tenggang rasa di tiap kebudayaan, di tiap negara, di tiap benua, di tiap masyarakat adalah nilai-nilai yang sebenarnya terbentuk oleh karena pengaruh agama secara dominan.

Lalu mengapa bangsa Indonesia malah terjebak menjadi bangsa yang gemar korupsi, pelanggaran HAM, dan sebagainya? Menjawab pertanyaan ini, Jansen berpendapat bahwa hal itu disebabkan oleh adanya pemisahan antara kehidupan sosial dan kehidupan agama.

Beragama dianggap urusan pribadi dengan Tuhan. Bagi orang Kristen misalnya, urusan dengan Tuhan dianggap hanya pada hari Minggu sedangkan hari Senin sampai Sabtu seakan-akan boleh melakukan hal-hal yang tidak baik. Pemisahan antara yang sakral dengan sekular terjadi begitu saja tanpa disadari. Misalkan saja, ada polisi yang menilang dan meminta ’uang damai’ padahal besok dia harus beribadah. Sesudah ibadah, dia kembali lagi melakukan ‘pekerjaannya’. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kesalehan pribadi tidak diteruskan menjadi kesalehan sosial, kesalehan kerja. Menurut Jansen, etos kerja adalah juga merupakan kesalehan kerja. Seharusnya, ibadah yang dilakukan akan menguatkannya di dunia kerja.

 

Dengan adanya konsistensi dan sinkronisasi antara kehidupan sosial dan agama, keberhasilan di tingkat pribadi, organisasi bahkan tingkat berbangsa dan bernegara bisa diraih dengan gemilang. Indonesia tidak akan dipandang lagi sebagai bangsa munafik, tetapi akan dikenal sebagai bangsa yang maju, tempat bagi negara-negara yang membutuhkan minta bantuan, tempat diadakannya event-event internasional. Indonesia menjadi berkah bagi bangsa-bangsa lain. Tetapi tanpa perubahan etos niscaya cita-cita itu tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Sumber: Agama dan Etos, Mr. Ethos Jansen H. Sinamo

Pos ini dipublikasikan di Buletin. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s