Membawa Keong Jalan-jalan


Tuhan memberiku sebuah tugas, yaitu membawa keong jalan-jalan. Aku tak dapat jalan terlalu cepat. Keong sudah berusaha keras merangkak, setiap kali hanya beralih sedemikian sedikit. Aku mendesak, menghardik, memarahinya. Keong memandangku dengan pandangan meminta maaf, serasa berkata, “ Aku sudah berusaha dengan segenap tenaga….” Aku menariknya, menyeret, bahkan menendangnya, Keong terluka. Ia mengucurkan keringat, nafas tersengal-sengal, merangkak ke depan.

Sungguh aneh, mengapa  Tuhan memintaku mengajak seekor Keong berjalan-jalan? Ya Tuhan, mengapa? Langit sunyi-senyap….Biarkan saja Keong merangkak didepan, aku kesal dibelakang. Pelankan langkah, tenangkan hati….

Ooooh? Tiba tiba tercium aroma bunga, ternyata ini adalah sebuah taman bunga. Aku rasakan hembusan sepoi angin, ternyata angin malam demikian lembut. Ada lagi! Aku dengar kicau burung, suara dengung cacing dan jangkrik. Aku lihat langit penuh bintang cemerlang. Ooooh?Mengapa dulu tidak kurasakan semua ini? Barulah aku teringat, mungkin aku telah salah menduga!

Ternyata Tuhan meminta aku menuntun Keong jalan-jalan, sehingga aku dapat memahami dan merasakan keindahan taman ini yang tak pernah kualami kalau aku berjalan sendiri dengan cepatnya. Maka berikan waktu dan hati untuk menikmati keindahan ciptaan Tuhan.

Salam dalam Kasih Tuhan,

Dikirim oleh Herman Tanuwidjaya melalui milis

Pos ini dipublikasikan di Buletin. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s