Meneruskan Karya Keselamatan-Nya


30 Maret 2008
13/TH A/II/08
Surat Gembala
Gereja Menjadi Tanda & Sarana Yesus Kristus
Meneruskan Karya Keselamatan-Nya

Saudara-saudari di dalam Yesus Kristus,
Sekali lagi, sekali lagi, Selamat Paskah, Halleluia! Peristiwa kebangkitan Yesus Kristus dalam masa Paskah ini sungguh telah mendorong kita Gereja Katolik untuk semakin merenungkannya dari pelbagai sudut pandang, khususnya lewat bacaan-bacaan pada bagian Ibadat Sabda pada setiap Ekaristi Kudus, baik harian maupun mingguan. Dia, yang telah bangkit dari mati atau Dia yang telah dibangkitkan oleh Allah Bapa dengan daya kekuatan Roh KudusNya, telah menjadi sasaran iman-kepercayaan kita manusia, mulai dari awal Gereja perdana ( baca Kisah Para Rasul) sampai sini-kini di mana kita ada dan hidup di dalam fakta keberagaman mengGereja. Iman-kepercayaan kepada Allah di dalam Yesus Kristus, yang telah membangkitkan Dia sungguh telah menjadi titik tolak gerakan mengGereja sampai sini-kini. Rasul Paulus, yang secara personal dikenal dan dipertobatkan oleh Yesus Kristus yang telah bangkit menandaskan: “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialahpemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1 Kor 15: 14).

Alasan beriman kita bukan karena adanya dogma-dogma agama yang banyak dan rinci, lalu setiap individu atau kelompok secara mati-matian meng”amini”nya, tetapi karena ada Dia yang memakai agama sebagai “tanda dan sarana” untuk mewahyukan Dia kepada semua manusia. Bahkan Yesus Kristus sendiri di dalam aspek manusiawi sekaligus ilahi dapat menimbulkan pertentangan di antara kita manusia, ketika kita tidak mampu menangkap Dia sebagai “tanda dan sarana” kehadiran Allah, yang disebut oleh Yesus sebagai Allah Bapa. Rasul Thomas mau meredusir Dia ke dalam pengalaman empiris, yakni mau percaya apabila bisa membuktikannya dengan pengalaman manusiawi yang inderawi ini.

  • Beriman kepada Allah dalam Yesus Kristus dibutuhkan kemampuan “transendental”, yakni menerima adanya kebenaran dari Allah yang mengatasi unsur-unsur manusiawi yang inderawi ini.
  • Mau “ngupek-ngupek” atau “mempersoalkan sampai capèk” misteri Tritunggal Yang Mahakudus dengan pendekatan matematis, logika biologis manusiawi……wao yang tidak akan sampai-sampai. Di balik “tanda dan sarana” Bapa-Putra-Roh Kudus ada kebenaran yang tidak bisa tuntas kita cerap dengan seluruh kemampuan inderawi kita;
  • Mau menyederhanakan Gereja Yesus Kristus sebagai fakta sosiologis melulu, sebagai sebuah organisasi manusiawi melulu, sebagai lembaga keagamaan yang sering dicap progresif melakukan penginjilan berkedok membagi-bagi sembako, dlsb……..wao lha yo ndak sampai-sampai. Karena Gereja adalah “tanda dan sarana” Allah Tritunggal Yang Mahakudus yang tetap mau menyelamatkan seluruh umat manusia.

Benar bahwa ada mengandung aspek manusiawi, tetapi mau merobohkanNya hanya dari sudut kekuatan manusiawi saja….sia-sialah usaha ini, karena Allah
telah teruji sungguh-sungguh bersabda dan berkarya melalui GerejaNya;

Gereja disebut “tanda dan sarana” atau “sakramen”, karena adanya tidak lain adalah menghadirkan atau menjadi “saksi” dari Dia yang pernah hidup di antara kita, tetapi setelah dibangkitkan dan naik ke Sorga, tetap menyertai kita dalam kehadiran Roh KudusNya. Oleh sebab itu Gereja ada karena Dia dan untuk Dia. Menjadikan Gereja sebagai organisasi politik-kemasyarakatan seperti partai-partai politik buatan manusia,….ya jelas tidak “matching” lah.

Saudara-saudariku, baik yang beriman kristiani maupun yang tidak, yang ternyata membaca Surat Gembala ini melalui website kami, Tuhan Yesus, yang dibangkitkan oleh Allah, mengatakan: “…Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20: 29). Sabda ini menandaskan bahwa sejauh manapun kita ini menjadi semakin maju dalam mengembangkan Sumber Daya Manusiawi (SDM) kita, tetapi bila berurusan dengan iman-kepercayaan kepada Allah, kita harus menerima fakta bahwa Allah sendiri mau menyingkapkan diri alias mewahyukan diri kepada kita dengan Sumber Daya Ilahi (SDI) yang sering kita sebut Rahmat, Karunia Roh Kudus, Grace, Gift of Faith, dlsb. Bila kita berada di dalam arus penghayatan seperti ini, kita sudah dekat satu sama lain, kita tidak harus saling bermusuhan, tidak harus saling curiga….sebab ketika kita sungguh 100 % manusia dan 100% terbuka di hadapan Allah yang misteri, namun mau menyingkapkan Diri…wao cara kita beriman tidak jauh berbeda. Namun, setiap kali kita terjebak oleh kebodohan manusiawi kita, yaitu hanya mau percaya bila 100% bisa membuktikan misteri Allah dengan daya manusiawi kita….wao di sinilah kita sendiri menjadi tidak terselamatkan.

Selamat merenungkan misteri iman kita masing-masing dan marilah terus menerus betumbuh-berkembang di dalam terang Rahmat Allah, yang dipancarkan oleh Dia bagaikan mentari yang menyinari alam semesta ini. Bila masih belum jelas juga tulisan saya ini, marilah kita ikuti Seminar yang berjudul “Rahmat Allah dalam kelemahan manusiawi kita”, yang akan diselenggarakan pada tanggal 12 April 2008 di Aula Paroki Santo Stefanus Cilandak kita.

Shalom,
Pastor H.Wardjito SCJ

Untuk diingat dan dicerna

153 Ketika Petrus mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, Putera Allah yang hidup, berkatalah Yesus kepadanya: “Bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang ada di surga” (Mat 16:17). Iman adalah satu anugerah Allah, satu kebajikan adikodrati yang dicurahkan oleh-Nya. “Supaya orang dapat percaya seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran” (DV 5) 154 Hanya dengan bantuan rahmat dan pertolongan batin Roh Kudus, manusia mampu percaya. Walaupun demikian, iman adalah satu kegiatan manusiawi yang sebenar-benarnya. Percaya kepada Allah dan menerima kebenaran-kebenaran yang diwahyukan oleh-Nya, tidak bertentangan baik dengan kebebasan maupun dengan pikiran manusia. Dalam hubungan antar manusia pun tidak bertentangan dengan martabat kita, kalau kita percaya apa yang orang lain katakan kepada kita mengenai diri mereka sendiri dan mengenai maksudnya, dan memberi kepercayaan kepada penjanjiannya (umpamanya kalau seorang pria dan wanita kawin) dan dengan demikian masuk ke dalam persekutuan dengan mereka. Maka dari itu, sama sekali tidak berlawanan dengan martabat kita, “dalam iman memberikan kepada Allah yang mewahyukan, ketaatan pikiran dan kehendak secara utuh” (Konsili Vatikan 1: DS 3008) dan dengan demikian masuk ke dalam persekutuan yang mesra dengan-Nya.

155 Dalam iman, akal budi dan kehendak manusia bekerja sama dengan rahmat ilahi: “Iman adalah satu kegiatan akal budi yang menerima kebenaran ilahi atas perintah kehendak yang digerakkan oleh Allah dengan perantaraan rahmat” (Tomas Aquinas., HYPERLINK “http://s.ths.th. 2-2, 2,9).

Pos ini dipublikasikan di Buletin, Surat Gembala. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s