Wajibkah Anak Katolik Bersekolah di Sekolah Katolik?


25 Maret 2008 10:03

Oleh : A. Tri Hartono Pr

Dalam Dokumen Konsili Vatikan II tentang Pendidikan Kristen,  Gravissimum Educationis (GE) art. 8, antara lain dikatakan: “Konsili memperingatkan para orang tua Katolik akan kewajiban mereka untuk mempercayakan anak-anaknya bila dan di mana mungkin, kepada sekolah-sekolah Katolik, dan untuk mendukung sekolah-sekolah Katolik sekuat tenaga serta bekerja sama dengannya demi kepentingan putera-puterinya”.

Kalau disederhanakan, Konsili Vatikan II mengingatkan “kewajiban orang tua Katolik untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Katolik, bila mungkin”.

Implikasi dan persoalannya:

1. Ketika orang tua Katolik menikah secara Katolik, selalu diingatkan akan kewajiban mereka untuk mendidik anak-anaknya secara Katolik. Hal serupa diulang lagi ketika mereka mempermandikan anak-anaknya.

2. Walaupun “mendidik secara Katolik” tidak identik dengan “menyekolahkan anaknya di sekolah Katolik” karena pendidikan jauh lebih luas dari sekedar sekolah, namun sekolah Katolik mestinya lebih memberikan pendidikan Katolik dari pada sekolah non Katolik.

3. Dengan menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Katolik berarti orang Katolik ikut mendukung keberadaan dan perkembangan sekolah Katolik,    sebagaimana telah diamanatkan dalam GE art. 8.

Di sini tersirat pentingnya hubungan dan kerjasama yang baik antara sekolah Katolik dengan umat/Gereja setempat. Apalagi kalau kita sadari bahwa sekolah Katolik merupakan kerasulan Gereja di bidang pendidikan. Bahkan harus kita akui bahwa pada awal karya misi, sekolah Katolik merupakan ujung tombak karya kerasulan Gereja. Di mana ada sekolah Katolik di situ Gereja tumbuh dan berkembang. Dengan kata lain di banyak tempat sekolah Katolik mempunyai sumbangan yang signifikan kepada tumbuh dan berkembangnya Gereja Katolik. Sebaliknya karena sekolah Katolik merupakan ujung tombak karya kerasulan Gereja, maka Gereja perlu terlibat aktif dalam penyelenggaraan dan pengelolaan sekolah-sekolah Katolik. Dalam hal ini kita diingatkan akan pentingnya hubungan baik dan kerjasama yang baik antara sekolah Katolik dengan umat/Gereja setempat. Ada contoh yang menarik untuk diperhatikan. Ada sekolah Kristen yang amat maju dan berkembang karena didukung penuh oleh jemaat dan pendeta setempat, sebaliknya Gereja setempat amat berkepentingan dengan sekolah sebagai tempat pembinaan dan kaderisasi.

4. Mengapa sering ada hubungan yang kurang baik antara sekolah Katolik dan Gereja setempat?

Tentu ada banyak penyebabnya. Misalnya sekolah Katolik yang dikelola oleh tarekat biarawan atau biarawati tertentu merasa otonom terhadap Gereja setempat. Bisa juga masalah pribadi antara pengelola sekolah Katolik dengan pimpinan Gereja setempat. Dalam situasi seperti sekarang ini, perlu kita sadari bahwa sekolah Katolik yang mempunyai hubungan dan kerjasama yang baik dengan Gereja setempat pun tantangannya berat, apalagi kalau tidak ada kerjasama. Maka sesuai dengan amanat Konsili Vatikan II dalam GE, bagaimana pun juga sekolah Katolik harus berkerjasama secara baik dengan Gereja setempat. Dalam hal ini memang amat dibutuhkan kerendahan hati dan keterbukaan satu-sama lain. Dalam hal ini Komisi Pendidikan setempat bisa menjadi fasilitator dan mediator.

5. Mengapa banyak orang katolik yang tidak menyekolahkan anaknya di sekolah katolik? Ada banyak sebab. Ada orang tua yang berpandangan bahwa dengan menyekolahkan anaknya di sekolah negeri atau sekolah non Katolik, anak akan terbiasa bergaul dan berinteraksi dalam kemajemukan masyarakat. Alasan ini ada betulnya tetapi juga ada tidak-betulnya. Sebab banyak sekolah Katolik yang siswanya juga heterogen. Seandainya di sekolah lebih banyak bergaul dengan anak-anak Katolik toh dalam pertemanan di masyarakat juga heterogen. Ada juga orang tua yang punya prinsip pada tingkat SD dan SMP, anak disekolahkan di sekolah Katolik tetapi setelah masuk SMA/SLTA disekolahkan di sekolah negeri atau non Katolik. Alasannya dalam jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP) anak perlu mendapatkan pendidikan dasar (termasuk pendidikan iman) yang kokoh dan baik. Setelah mempunyai dasar yang kokoh dan baik, mereka dibiarkan masuk sekolah negeri/non Katolik yang heterogen seperti yang ada di masyarakat. Namun kenyataan sering mununjukkan bahwa walau SD dan SMP bahkan sampai SMA di sekolah Katolik, tetapi setelah masuk Pergruan Tinggi non Katolik, hanyut ikut arus yang lain. Dengan kata lain sungguhkah sekolah Katolik memberikan dasar-dasar iman yang kokoh dan baik?

Dalam situasi seperti ini bisa terjadi sekolah Katolik menyalahkan orang tua dan Gereja setempat yang kurang memberikan pendidikan dan pembinaan iman secara baik. Sebaliknya orang tua atau Gereja setempat bisa menyalahkan sekolah Katolik yang tidak memberikan pendidikan iman yang baik. Sebetulnya dari pada saling menyalahkan lebih baik duduk bersama untuk bekerjasama secara baik demi pendidikan iman anak-anak Katolik. Bisa juga orang tua tidak menyekolahkan anaknya di sekolah Katolik karena mutu sekolah Katolik setempat kalah jauh dari sekolah negeri atau sekolah non Katolik. Bila hal itu benar, bukankah tugas kita semua termasuk para orang tua Katolik untuk ikut membantu mengembangkan sekolah Katolik agar semakin bermutu sesuai harapan para orang tua? Paling menyedihkan kalau ada orang Katolik yang tidak menyekolahkan anaknya di sekolah Katolik karena ada permusuhan pribadi antara orang tua dan guru di sekolah Katolik.

6. Lalu bagaimana kesimpulannya? Seperti ditegaskan oleh Konsili Vatikan II dalam Gravissimum Educationis art. 8: ” Para orang tua berkewajiban untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Katolik, bila mungkin”. Tentu saja sekolah Katolik dan atau Gereja tidak boleh hanya menuntut agar para orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah Katolik, tetapi juga perlu memberikan jaminan mutu pendidikan yang baik dan beaya yang sesuai atau terjangkau oleh kebanyakan orang tua Katolik. Sebaliknya para orang tua Katolik, tidak boleh hanya serba menuntut agar sekolah Katolik bermutu dan terjangkau beayanya, tetapi tidak mau memberikan sumbangan nyata bagi peningkatan mutu pendidikan di sekolah Katolik.Maka perlu ada kerjasama yang baik antara: sekolah Katolik; Gereja setempat dan para orang tua. Semoga!

***

Penulis, Anggota Pengurus Komisi Pendidikan KWI
Dikirim oleh Felicia Dana melalui milis

Pos ini dipublikasikan di Buletin. Tandai permalink.

2 Balasan ke Wajibkah Anak Katolik Bersekolah di Sekolah Katolik?

  1. Anie berkata:

    Inginnya sih menyekolahkan anak disekolah katolik tapi sekolah katolik rata2 mahal2 terlebih buat saya yg singlemom.

  2. Tutu berkata:

    Ada ga ya sekolah katolik yg bnr2 murah (malah klo bs gratis) utk warga katolik yg tdk mampu (min SD).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s