Anak anak kereta api


Teman teman Felicitas,

Akhir tahun lalu saya ( Ben Usagani) dan Johanna pernah ikut dalam acara retret KKIT ( Kerabat Kerja Ibu Teresa ) di Cisarua. Yang memberikan prersentasi adalah seorang Romo dari Surabaya dan seorang Suster asal Toraja dari Calcutta ( Mother Teresa Calcutta ) menjelang kaul kekal nya. Saya lupa nama Romo tersebut, tapi rasanya Romo Didik.

Yang saya ingin ceritakan adalah perkenalan saya dengan seorang yang bernama Christophel dalam retret itu. Orangnya berumur kira kira 35 tahun, berpakaian hitam hitam, rambut gondrong, kalau dilihat sepintas lalu, maka pasti kita mengira berhadapan dengan preman. Ternyata sdr.Christophel ini mengelola sebuah rumah singgah untuk ANAK
ANAK KERETA API di Jatinegara. Saya tertarik untuk mengetahui lebih lanjut dan mengambil kesempatan untuk melihat langsung kegiatannya di Jatinegara. Saya cukup terkesan dengan pengorbanannya. Saya melihat anak anak tsb yang sedang duduk beramai ramai dan siap untuk menaiki kereta api yang tiba, Menurut sdr. Christophel, anak anak itu ada yang mengamen, ada yang membersihkan kereta sambil mengemis. Dia memanggil salah seorang anak yang mungkin berumur sekitar 10 tahun yang berpakaian kotor, namun dia ternyata bersekolah dan saya diperlihatkan foto beramai ramai dalam pakaian seragam; Dalam perjalanan meninjau kamar kost nya berukuran 3m x 3m ada 2 buah, sebuah
sedang ada beberapa yang tidur untuk keluar mencari nafkah saat malam dan dikamar yang lain saya bertemu dengan seorang pemuda dari Timor yang sedang ditugaskan oleh Seminari untuk ikut dan mencatat semua kegiatan dari Christophel ini;
Didepan tempat kost nya itu, terdapat sebuah tempat belajar mengaji untuk anak anak dan orang didalam tempat tersebut memberi salam kepada Christophel ketika kami lewat; Menurut Christophel anak anak binaannya
ada beberap yang ikut belajar ngaji disana.

Juga dijalan kami bertemu dengan seorang anak sekolah yang berumur kira kira 12 tahun, memanggil “kakak” kepada Christophel dan datang mencium tangannya. Anak itu adalah salah seorang yang disekolahkan. Saya bertanya dimanakah mereka bersekolah, ternyata ada kordinasi dengan sebuah Yayasan Islam yang menerima anak anak demikian.
Menurut Christophel, cara pendekatan yang paling efetif adalah mendampingi mereka, mempêrsatukan mereka untuk saling melindungi dari pihak preman besar, dan terutama pada saat mereka sakit, didamping dan diberi obat, saat itulah umumnya bisa diberi kesadaran. Christophel sudah biasa mengurus orang orang jalanan yang sekarat ataupun meninggal, dia umumnya mengantar ke Rumah Transit KKIT.

Saya merasa kegiatan Christophel ini sangat luar biasa, dan lebih terkesan lagi karena kegiatannya adalah kegiatan lintas Agama, hal yang semestinya demikian untuk Negara Kita Indonesia. Kalau sekiranya ada teman teman yang mau melihat langsung, saya bisa mengaturnya. Mereka sekarang sudah pindah dari kamar kost dan sudah ada rumah singgah sewaan.

Demikian sharing dari saya. Saya dan Johanna saat ini sedang di Belfort, Perancis, mendapingi puteri kami Rima yang baru melahirkan. Keluarga ini (Rima & Nicolas dan putera kembar)  baru pindah kembali ke Perancis setelah 5 tahun di Casablanca, Marokko.

Salam

Ben Usagani

Pos ini dipublikasikan di Buletin. Tandai permalink.

4 Balasan ke Anak anak kereta api

  1. sari berkata:

    saya salut buat beliau… mohon alamatnya.gbu

  2. lintasadmin berkata:

    Dear Sdri Sari,

    Terima kasih atas kunjungannya ke weblog kami. Saya kirimkan jawaban dari penulis alamat yang ditanyakan melalui email.

    Salam

  3. Lucie berkata:

    hallo yo, sy bc tayangan ini lewat sari, skrg sy lg di ITB sama sari buat maen/browsing ttg byk hal terutama ttg KKIT, doakan saya bisa beli laptop yah biar bisa browsing sendiri yah.. hari jumat sore kita ketemu di rumah Margo.

    gbu
    Lucie – Bandung

  4. Mozes Usabeny berkata:

    Setiap anak muda selalu berharap menjadi lebih baik di kemudian hari. Namun terkadang terlalu melihat kehidupan di ‘atas’ dan susah untuk melihat ke ‘bawah’ dimana ada beberapa saudara kita yang tidak dapat menikmati kehidupan secara layak.
    Untuk hal ini saya tidak dapat menyalahkan siapa-siapa atas kondisi beberapa anak yang kekurangan.
    Yang diperlukan adalah rasa syukur atas tiap hal & bagaimana mereka mengisi kehidupannya sehari-hari tidak peduli dari agama, etnis & tingkat pendidikan yang mereka miliki.
    Yang diperlukan juga adalah bagaimana pola pikir mereka untuk dapat menjadi lebih baik.

    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s