Warta Paroki St. Stefanus Cilandak edisi 17 Februari 2008


Saudara-saudari seiman,
Ajakan Yesus kepada Petrus, Yakobus dan Yohanes untuk mengalami kebahagiaan surgawi di atas puncak gunung yang tinggi (bacaan Injil Mat 17: 1-9) mengingatkan kita akan pengalaman Musa di atas gunung Sinai (Kel 24: 15 – 18).

“Pengalaman puncak bertemu dengan Allah” dalam bahasa keagamaan disebut “the Peak Experience”. Bukan pertama-tama karena dialami di atas puncak gunung, tetapi karena merupakan pengalaman rohani berjumpa dengan Allah yang mewahyukan DiriNya, yang amat menentukan langkah-langkah seseorang atau umat sebagai suatu komunitas atau jemaah. Kepada ke-3 murid Yesus, Allah mewahyukan Diri dengan mengatakan: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mat 17: 5). Pengalaman rohani menyertai mereka, yaitu dari satu sisi merasa betapa “bahagia” (ayat 4) karena ada di tengah-tengah kemuliaan Allah, tetapi dari lain sisi mereka juga “sangat ketakutan” (ayat 6).  Rudolf Otto (1869-1937) dalam bukunya The Idea of the Holy, melukiskan bahwa Allah adalah misteri yang menimbulkan ketakutan (mysterium tremendum) dan sekaligus adalah misteri yang mempesona (mysterium fascinans).
Marilah kita menemukan pengalaman pribadi kapan pernah mengalami Allah di dalam hidup saya ini, sebagai pengalaman “puncak” yang amat menentukan langkah hidupku di kemudian hari? Sewaktu ikut retret? Sewaktu menjadi misdinar? Sewaktu mengalami “kegoncangan dalam hidup pribadi”, yaitu ketika diselamatkan dari krisis, dari sakit, dari peristiwa tragis yakni kecelakaan lalulintas, dlsb.?
Yesus Kristus dalam Ekaristi Kudus telah penjadi pengalaman rohani, baik sebagai sumber dan puncak hidup kristiani saya-kita (lih. Lumen Gentium no. 11). Paus Benediktus XVI, dalam Anjuran Apostolik, “Sacramentum Caritatis” (2007) menandaskan sekali lagi bahwa Ekaristi Kudus adalah Sumber dan Puncak kehidupan serta Perutusan Gereja, # 1-2. Kita menyatakan “Amin” atas ajaran yang membimbing ini, bukan? Hanya apakah kita juga konsisten dan konsekuen untuk memaknainya?

***
Saudara-saudari di dalam Yesus Kristus,
Tuhan Yesus tidak membiarkan ketiga muridNya mendirikan tiga tenda – satu untuk Musa, satu untuk Elia dan satunya lagi untuk Yesus; dan mereka puas menikmati “pengalaman puncak”. Tidak! Mereka bertiga diajak turun dan melanjutkan perjalanan menuju Yerusalem. Tentang “pergi menuju Yerusalem” dalam Injil Lukas diceriterakan sebagai isi pembicaraan antara Yesus, Musa dan Elia, “Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem” (Luk 9: 31). Sementara itu, pengalaman puncak ini diminta untuk tetap dirahasiakan sampai Yesus dibangkitkan dari antara orang mati (lih. Mat 17: 9). Yesus tidak membiarkan para muridNya untuk mendapatkan kemuliaan, dapat tanpa melalui kesengsaraan dan bahkan kematian di kayu salib. Sekali lagi pepatah ini untuk kebenaran hidup kristiani kita, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”
Tidak layak sebagai pengikut Yesus Kristus, hanya mau menikmati enaknya mendapatkan berbagai macam karunia yang membahagiakan. Kita tidak cukup merasa senang-bahagia, karena telah dibebaskan dari segala macam dosa karena Dia telah mengampuni dosa kita, karena dengan darah-kudusNya kita telah disucikan…Dia mau agar kita mengikuti jejakNya yaitu turut memikul salib kehidupan ini bersama Dia, dan mati terhadap dosa, lalu bangkit bersama Dia memasuki kehidupan sorgawi. Spiritualitas kristiani yang tidak menyertakan Teologi Salib hanya akan mendukung kita memperlakukan Tuhan Allah sebagai sumber “kemakmuran” saya dan dan kelompok saya. Nah timpang, bukan?

***
Dimensi “marturia” sebagai penyempurna ke-4 dimensi mengGereja  — kerugma, leiturgia, koinonia, dan diakonia — tidak lain adalah bukti bahwa kasih kita pada Tuhan Yesus Kristus kita buktikan 100% dengan membuat komitment untuk mengikuti Dia sampai di kayu salib. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15: 13). Oih, komitmen!? Yah, komitmen yang mesti kita latih setapak demi setapak melalui berbagai macam kegiatan…Kita mau seperti Yesus: Lihatlah, Aku datang untuk melaksanakan kehendakMu, ya Bapa!” (lih. Ibr 10:9).

Selamat bermatiraga, berpantang dan berpuasa demi Tuhan dan sesama,
Pastor H. Wardjito SCJ.
B A C A  A  N     H A R I A N   TAHUN A/II
Senin, 18 Feb. 2008 : Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U). Dan 9:4b-10; Mzm 79:8-9.11.13; Luk 6:36-38.
Selasa, 19 Feb. 2008 : Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U). Yes 1:10.16-20; Mzm 50:8-9.16bc-17.21.23;
Mat 23:1-12.
Rabu, 20 Feb.2008  : Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U). Yer 18:18-20; Mzm 31:5-6.14-16; Mat 20:17-28.
Kamis, 21 Feb. 2008 : Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U). Yer 17:5-10; Mzm 1:1-4.6; Luk 16:19-31.
Jumat , 22 Feb. 2008 : Pesta Takhta St. Petrus, Rasul (P). 1Ptr 5:1-4; Mzm 23:1-6;  Mat 16:13-19.
Sabtu, 23 Feb. 2008 : Hari Biasa Pekan II Prapaskah (U). Mi 7:14-15.18-20; Mzm 103:1-4.9-12;
Luk 15:1-3.11-32.
Minggu, 24 Feb. 2008 : Hari Minggu Prapaskah III (U). Kel 17:3-7; Mzm 95:1-2.6-9; Rm 5:1-2.5-8;
Yoh 4:5-42 (Yoh 4:5-15.19b-26.39a.40-42).

Pos ini dipublikasikan di Buletin, Warta Paroki. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s