NILAI KEHIDUPAN UNTUK KEHIDUPAN KEKAL


07 Nopember 2010 45/Th.C/II/10

Bapak/Ibu yang terkasih,

Mari kita renungkan ilustrasi berikut: “Ada sebatang pohon besar tumbang di tengah jalan, akibat angin puting beliung!” Pejalan kaki berkomentar: “Batang pohon ini menghalangi jalan!”. Pembuat batu-bata berkomentar: “Sayang pohon ini, kalau dibelah-belah bisa untuk membakar batu-bata!”. Komentar tukang pembuat meubel: “Sayang sekali kayu ini, kalau digergaji, bisa untuk: lemari, meja, prabot rumah tangga, dll!”

Dari ketiga komentatores terhadap satu obyek, penilaiannya sudah berbeda-beda. Komentar yang bernilai: “diolah dan dimanfaatkan secara baik, ternyata memiliki “nilai kehidupan bagi manusia!”.

Bapak/Ibu yang terkasih, Cara pandang tukang meubel: “Itulah yang ditempuh oleh seorang ibu dan kejutuh anaknya yang disiksa, karena iman akan kehidupan kekal (Bacaan I) dan oleh Yesus dalam Injil hari Minggu ini. Menjalani hidup di dunia ini, tidak pernah asal bisa hidup, bisa makan, minum, dapat pekerjaan, kedudukan, berprestasi dan memiliki hari pensiun yang aman dan nyaman, lalu selesailah hidup! Tidak begitu! Kita harus ingat dan sadar bahwa ada nilai kehidupan yang lebih luhur dari semua itu, yaitu nilai kebangkitan hidup bersama Allah, sesudah kehidupan kita di dunia ini, dan Allah sendiri sudah hadir disaat kehidupan kita di dunia ini.

Semua itu pernah diperjuangkan dan menjadi teladan bagi kita, baik oleh “Tuhan Yesus sendiri, Bunda Maria dan Santo-Santa”, yang pestanya kita rayakan pada tgl. 01 Nopember yang lalu. Kebangkitan dan kehidupan kekal mereka bukan isapan jempol, tetapi menjadi Ajaran Resmi Gereja Katolik sampai saat ini.

Bapak/Ibu yang terkasih, Dari ungkapan tersebuat di atas, bisa kita simpulkan sebagai berikut:

Pertama : Nilai hidup abadi sudah hadir dalam hidup kita saat ini. Sebagai jaminan pasti, hadir nyata ketika kita menyambut Tubuh dan Darah Tuhan dalam Ekaristi Kudus, seperti sabda-Nya: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman!”. (Yoh 6:54) .

Kedua : Nilai kehidupan kita jangan hanya berhenti pada apa yang kita inginkan di dunia ini: “Pendidikan, pekerjaan, posisi kedudukan yang terhormat, memiliki sarana-prasarana yang mewah dan sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, dll”. Semua itu kita butuhkan, tetapi tidak perlu kita mutlakkan, bahkan ada yang sangat lengket, menjadi kikir dan melupakan Tuhan dan hukum kasih-Nya untuk sesamanya. Ada nilai kehidupan lain yang kita tuju dan perjuangkan dalam iman, pengharapan dan kasih kepada-Nya. “Suka atau tidak, rela atau tidak, siap atau tidak”, kita akan menerima kenyataan hidup, yaitu “Nilai Kehidupan Kekal”, setalah kematian hidup kita di dunia ini, dan “Ada Kebangkitan badan” (Contoh nyata: “Yesus dan Bunda Maria, bangkit dari kematian-Nya naik ke sorga utuh Jiwa Raga-Nya” dan menampakkan diri di dunia ini). Itulah maknanya: “Nilai kehidupan kita untuk kehidupan kekal!”.

Salam dan doaku, Pastor St. Endrokaryanto, SCJ.

Sumber, dan berita warta paroki lain silahkan download di: 07 Nopember 2010 LD.

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Warta Paroki dan tag , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s