HIDUP UNTUK MEMBERI

2009 Juli 1
by lintasadmin

Di suatu sore hari pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip di sela-sela kepadatan kendaraan di sebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta.

Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru muda, sambil membagikan bungkusan tersebut, ia menyapa akrab setiap orang, dari Tukang Koran, Penyapu jalan, Tuna Wisma, sampai Pak Polisi.

Pemandangan itu membuatku tertarik, pikiranku langsung melayang membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan bungkusannya, apakah dia berjualan? Kalau dia berjualan apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau…?? untuk membunuh rasa penasaranku, aku pun membuntuti si anak kecil tersebut sampai
di seberang jalan, setelah itu aku langsung menyapa anak tersebut untuk aku ajak berbincang-bincang. De, boleh kakak bertanya? Silakan Kak. read more…

Buku Harian Ayah

2009 Juni 13
by lintasadmin

Ayah dan ibu telah menikah lebih dari 30 tahun, saya sama sekali tidak pernah melihat mereka bertengkar.
Di dalam hati saya, perkawinan ayah dan ibu ini selalu menjadi teladan bagi saya, juga selalu berusaha keras agar diri saya bisa menjadi seorang pria yang baik, seorang suami yang baik seperti ayah saya. Namun harapan tinggallah harapan, sementara penerapannya sangatlah sulit. Tak lama setelah menikah, saya dan istri mulai sering bertengkar hanya akibat hal – hal kecil dalam rumah tangga. read more…

SUDAH CUKUP?

2009 Juni 10
by lintasadmin

RENUNGAN HARIAN, RABU 10 JUNI 2009

SUDAH CUKUP? (Bacaan : 1 Timotius 6:3-10)

Sekelompok orang kristiani Amerika mengunjungi seorang pendeta di Kolkata (dulu: Kalkuta-Red), India. Mereka ingin melihat bagaimana ia melayani penduduk miskin di daerah kumuh. Selang beberapa hari, mereka prihatin melihat sang pendeta setiap hari mengayuh sepeda menyusuri kota yang panas dan berdebu. Di akhir kunjungan, mereka ingin membelikannya mobil bekas. Namun, sang pendeta menolak rencana itu. Mengapa? Ia berkata, “Lebih baik uang sebanyak itu kita pakai untuk melayani orang miskin. Hidup saya sudah cukup nyaman.”

Rasa cukup itu relatif. Paulus merasa berkecukupan “asal ada makanan dan pakaian” (ayat 8); sebaliknya, guru-guru palsu di Efesus selalu merasa kekurangan. Mereka sampai memanfaatkan pelayanan ibadah sebagai alat pencari keuntungan (ayat 5). Rasa cukup muncul dari cara orang memandang hidup. Orang yang gandrung mengumpulkan harta baru puas jika sudah punya segalanya. Padahal harta tak akan habis dikejar. Akibatnya, ia selalu merasa kekurangan. Sebaliknya, orang yang sadar bahwa harta itu fana, tak bisa dibawa mati, akan mencari yang lebih bernilai kekal. Baginya mencari Tuhan dan menaati perintah-Nya lebih utama dari mengumpulkan harta. Ini membuatnya merasa cukup dengan apa yang ada.

Adakah sebuah benda yang sangat ingin Anda miliki akhir-akhir ini? Benarkah Anda sangat memerlukannya atau sekadar ingin punya? Bisakah Anda hidup bahagia tanpanya? Memiliki harta benda tidaklah salah, tetapi jangan biarkan ia memiliki Anda. Jangan sampai kepuasan dan kebahagiaan hidup Anda ditentukan olehnya.

Orang miskin bukanlah mereka yang tak punya banyak harta melainkan mereka yang selalu merasa berkekurangan.

Dikirim oleh Shinta Kohar melalui milis.

HAJARAN KASIH

2009 Juni 1
by lintasadmin

RENUNGAN HARIAN, SENIN 1 JUNI 2009

HAJARAN KASIH (Bacaan : Ibrani 12: 6-11)

Dunia mengenal Hellen Keller sebagai orang buta yang berhasil lulus sarjana, dan dalam keterbatasannya menjadi berkat bagi banyak orang. Sebenarnya, di balik sosok Hellen, ada tokoh yang jarang disorot. Yakni Anne Sullivan, guru privat Hellen. Dialah yang mengajar Hellen banyak hal. Namun, jangan berpikir ia mengajar dengan lemah lembut. Ketika Hellen kecil, Anne bahkan harus mendisiplin Hellen dengan sangat keras supaya ia bisa makan dengan sendok. Awalnya, orangtua Hellen keberatan dengan cara Anne yang menurut mereka terlalu disiplin. Namun, Anne meyakinkan orangtua Hellen bahwa jika mereka ingin anaknya berhasil, Hellen perlu didisiplin. Jika Anne tidak mendisiplin Hellen, dunia mungkin takkan pernah diberkati oleh seorang Hellen Keller.

Demikian pula dengan Bapa di surga. Karena Dia adalah Bapa yang baik, itu sebabnya Dia mendisiplin kita. Penulis surat Ibrani menuliskan didikan Tuhan dari sudut pandang Tuhan. Ia memberi kita petunjuk bagaimana harus bersikap ketika dihajar Tuhan. Pertama, jangan anggap enteng. Sikap menganggap enteng membuat kita tidak pernah belajar dari kesalahan yang kita buat, sehingga kita terus-menerus membuat kesalahan yang sama. Kedua, jangan putus asa (ayat 5). Putus asa membuat kita merasa tak punya harapan untuk maju. Ingat saja bahwa Tuhan mendidik bukan karena benci, sebaliknya karena Dia mengasihi dan menganggap kita anak-Nya (ayat 6).

Dididik dan dihajar Tuhan memang tidak menyenangkan. Namun, itulah bukti kasih Tuhan yang mendalam pada kita. Selama ini, bagaimana respons kita terhadap didikan Tuhan? Sepatutnya kita bersyukur dan menerima didikan-Nya.

Hajaran Tuhan adalah hajaran yang dilandasi oleh kasih bukan kebencian.

Dikirim oleh Shinta Kohar melalui milis.

ZIAKUL (Ziarah Kuliner) LINGKUNGAN FELICITAS 31 Mei 2009

2009 Mei 20
by lintasadmin

Ziarah 3 Gereja dan wisata kuliner Katedral – Toasebio – Regina Caeli

GEREJA KATEDRAL Paroki Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga

Gereja Katedral Jakarta (nama resmi: Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga, De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming) adalah sebuah gereja di Jakarta. Gedung gereja ini diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu.

katedral1

Gereja yang sekarang ini dirancang dan dimulai oleh Pastor Antonius Dijkmans dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Provicaris Carolus Wenneker. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Cuypers-Hulswit ketika Dijkmans tidak bisa melanjutkannya, dan kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Jakarta. read more…

Sharing pengalaman perjalanan ke Ambon-Banda Neira-Makassar

2009 Mei 19
by lintasadmin

Kawan kawan Lingkungan Felicitas,

Saya ingin membagi pengalaman saya mengunjungi Ambon, Banda Neira dan Makassar dari tgl. 24 April s/d 8 Mei 2009.  Kami berempat: saya, isteri dan besan kami dari Perancis bersama dalam perjalanan yang diatur oleh Inbound Travel agent.  Kami berangkat tgl. 24 April jam 01:30 dengan Lion Air ( Pesawat baru) langsung Jakarta – Ambon dan tiba sekitar jam 6:45 di Bandara Pattimura.

Di Ambon kami mengunjungi beberapa obyek wisata, termasuk kunjungan ke Sacred Eel dan Pekuburan ANZAC yang sangat terawat dan indah, kebetulan peringatan ANZAC jatuh pada tanggal 25 April, ketika kami berada di Ambon. Saat itu kegaiatan pengamanan dari militer cukup banyak, karena menghindari usaha pengibaran bendera RMS pada saat itu. read more…

My Name is Rose.

2009 Mei 10
by lintasadmin

The first day of school our professor introduced himself and challenged us to get to know someone we didn’t already know. I stood up to look around when a gentle hand touched my shoulder. I turned around to find a wrinkled, little old lady beaming up at me with a smile that lit up her entire being.

She said, ‘Hi handsome. My name is Rose. I’m eighty-seven years old. Can I give you a hug?’ I laughed and enthusiastically responded, ‘Of course you may!’ and she gave me a giant squeeze. ‘Why are you in college at such a young, innocent age?’ I asked. She jokingly replied, ‘I’m here to meet a rich husband, get married, and have a couple of kids …’ read more…

BAHAGIA

2009 Mei 2
by lintasadmin

John C Maxwell suatu ketika pernah didapuk menjadi seorang pembicara di sebuah seminar bersama istrinya. Ia dan istrinya, Margaret, diminta menjadi pembicara pada beberapa sesi secara terpisah. Ketika Maxwell sedang menjadi pembicara, istrinya selalu duduk di barisan terdepan dan mendengarkan seminar suaminya. Sebaliknya, ketika Margaret sedang menjadi pembicara di salah satu sesi, suaminya selalu menemaninya dari bangku paling depan.

Ceritanya, suatu ketika sang istri, Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang kebahagiaan. Seperti biasa, Maxwell duduk di bangku paling depan dan mendengarkan. Dan di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan. Yang namanya seminar selalu ada interaksi dua arah dari peserta seminar juga kan ? (Kalau satu arah mah namanya khotbah.)
Di sesi tanya jawab itu, setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya. Ketika diberikan kesempatan, pertanyaan ibu itu seperti ini, “Miss Margaret, apakah suami Anda membuat Anda bahagia?”
Seluruh ruangan langsung terdiam. Satu pertanyaan yang bagus. Dan semua peserta penasaran menunggu jawaban Margaret. Margaret tampak berpikir beberapa saat dan kemudian menjawab, “Tidak.”
Seluruh ruangan langsung terkejut. “Tidak,” katanya sekali lagi, “John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia.” Seisi ruangan langsung menoleh ke arah Maxwell. (Kebayang ga malunya Maxwell saat itu.) Dan Maxwell juga menoleh-noleh mencari pintu keluar. Rasanya ingin cepat-cepat keluar. Malu ui!
Kemudian, lanjut Margaret, “John Maxwell adalah seorang suami yang sangat baik. Ia tidak pernah berjudi, mabuk-mabukan, main serong. Ia setia, selalu memenuhi kebutuhan saya, baik jasmani maupun rohani. Tapi, tetap dia tidak bisa membuatku bahagia..”
Tiba-tiba ada suara bertanya, “Mengapa?”
“Karena,” jawabnya, “tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri.”
Dengan kata lain, maksud dari Margaret adalah, tidak ada orang lain yang bisa membuatmu bahagia. Baik itu pasangan hidupmu, sahabatmu, uangmu, hobimu. Semua itu tidak bisa membuatmu bahagia. Karena yang bisa membuat dirimu bahagia adalah dirimu sendiri.
Kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Kalau kamu sering merasa berkecukupan, tidak pernah punya perasaan minder, selalu percaya diri, kamu tidak akan merasa sedih. Sesungguhnya pola pikir kita yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor luar.
Contohnya rasul Paulus. Ketika itu rasul Paulus sedang dihimpit oleh keadaan. Ia disiksa dan dipenjara, ditolak kanan kiri. Tapi coba lihat surat-suratnya. Apakah berisi keluh kesah? Justru sebaliknya! Sebagian besar surat-surat Paulus justru berisikan motivasi, berita gembira dan inspirasi. Rasul Paulus bahagia. Meskipun keadaan sekelilingnya mungkin merupakan alasan ia tidak bahagia, namun ia bahagia.
Bahagia atau tidaknya hidupmu bukan ditentukan oleh seberapa kaya dirimu, seberapa cantik istrimu, atau sesukses apa hidupmu. Ini masalah pilihan: apakah kamu memilih untuk bahagia atau tidak.

John C Maxwell suatu ketika pernah didapuk menjadi seorang pembicara di sebuah seminar bersama istrinya. Ia dan istrinya, Margaret, diminta menjadi pembicara pada beberapa sesi secara terpisah. Ketika Maxwell sedang menjadi pembicara, istrinya selalu duduk di barisan terdepan dan mendengarkan seminar suaminya. Sebaliknya, ketika Margaret sedang menjadi pembicara di salah satu sesi, suaminya selalu menemaninya dari bangku paling depan.

Ceritanya, suatu ketika sang istri, Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang kebahagiaan. Seperti biasa, Maxwell duduk di bangku paling depan dan mendengarkan. Dan di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan. Yang namanya seminar selalu ada interaksi dua arah dari peserta seminar juga kan ? (Kalau satu arah mah namanya khotbah.)

Di sesi tanya jawab itu, setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya. Ketika diberikan kesempatan, pertanyaan ibu itu seperti ini, “Miss Margaret, apakah suami Anda membuat Anda bahagia?”

Seluruh ruangan langsung terdiam. Satu pertanyaan yang bagus. Dan semua peserta penasaran menunggu jawaban Margaret. Margaret tampak berpikir beberapa saat dan kemudian menjawab, “Tidak.” read more…

JADUAL 9 KALI PERTEMUAN DOA ROSARIO DI BULAN MEI 2009

2009 April 29
by lintasadmin

 

Shaloom Warga Felicitas tercinta,
Bersama ini kami  memberikan susunan jadual pertemuan doa Rosario yang akan datang sebagai berikut :
  1. Jum’at, 1 Mei 2009          Kel. Hadi/Patricia, saturnus I/1
  2. Rabu, 6 Mei 2009            Kel. Handi/Sisca, Uranus III/8. Akan diisi renungan oleh Rm. Alfons OFM dari Cipanas
  3. Jum’at, 8 Mei 2009          Kel. Damer/Winda, Jupiter II/24
  4. Rabu, 13 Mei 2009          Kel. Ibu L. Windoe,  Matahari I/L3-6
  5. Jum’at, 15 Mei 2009        Kel. Tjan Soen Eng/Gwenny, Neptunus VI/10
  6. Rabu, 20 Mei 2009          Kel. Gianto/Honny,  Venus A3/8-9
  7. Jum’at, 22 Mei 2009        Kel. Gunawan/Dewi, Jupiter II/28
  8. Rabu, 27 Mei 2009          Kel. Robert/Santi, Matahari I/L3-29
  9. Jum’at, 29 Mei 2009        Kel. Nur/Titi Tabusala, Jupiter Raya 3

 Setiap pertemuan akan diadakan pada jam 20.00.

Terima kasih untuk warga yang telah bersedia membuka rumah untuk pertemuan pertemuan tersebut, kiranya berkat Tuhan melimpahi rumah Saudara dan seisinya.

Kami mengharapkan pertemuan pertemuan tsb diatas dapat makin memperkuat iman dan  tali persahabatan kita sebagai warga katolik di lingkungan Felicitas.

Shaloom,

Sie. Liturgi.

Mengapa umat Katolik tidak membawa Kitab Suci ke Gereja

2009 April 28
by lintasadmin

Gereja-gereja Protestan menyediakan Kitab Suci di bangku-bangku mereka serta mendorong umatnya untuk membawa Kitab Suci mereka sendiri. Gereja-gereja Katolik menyediakan Lembaran Misa di bangku-bangku mereka yang berisi bacaan-bacaan dari Kitab Suci yang akan diwartakan pada hari itu. Setiap umat Katolik dianjurkan untuk membawa Kitab Suci pribadi mereka untuk digunakan pada waktu doa dan renungan sebelum dan sesudah Misa. Yang sering terjadi adalah umat Katolik ke gereja membawa Puji Syukur saja, tanpa Kitab Suci. Gejala ini menimbulkan kesan bahwa Gereja Katolik tidak akrab dengan Kitab Suci.

Sebagian besar orang non-Katolik tidak paham bahwa Gereja Katolik menyelenggarakan pelayanan liturgi setiap hari sepanjang tahun. Mereka juga tidak paham bahwa Gereja Katolik mempunyai kalender liturgi yang menentukan bacaan-bacaan mana dari Kitab Suci yang harus diwartakan setiap hari sepanjang tahun. Bacaan-bacaan hari Minggu dibagi dalam tiga Lingkaran Tahun Gereja (Tahun A, Tahun B dan Tahun C). Setiap lingkaran tahunan dipusatkan pada salah satu dari ketiga Injil sinoptik (Tahun A : Matius, Tahun B : Markus atau Tahun C : Lukas). Injil Yohanes digunakan pada setiap lingkaran tahunan pada masa Paskah dan pada tahun B karena Injil Markus lebih pendek dibandingkan Injil sinoptik lainnya.

Tahun Baru Gereja dimulai pada Minggu Pertama Masa Adven dan berakhir pada Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Bacaan dari Perjanjian Lama dan Mazmur Tanggapan dipilih yang sesuai dengan bacaan Injil. Bacaan kedua diambil dari Surat-surat para Rasul dari Perjanjian Baru dan diwartakan mulai dari awal hingga akhir.

Selama Masa Paskah, bacaan dari Kisah Para Rasul menggantikan bacaan dari Perjanjian Lama. Kalender liturgi dan lingkaran tahun gereja telah dipergunakan, dengan sedikit perubahan, baik oleh gereja-gereja Lutheran maupun Episcopal. Misa harian mempunyai satu lingkaran pewartaan Injil. Keempat Injil digunakan dalam Misa harian sepanjang tahun. Bacaan pertama dalam Misa harian menggunakan Tahun I (untuk tahun ganjil) atau Tahun II (untuk tahun genap). read more…