PERGILAH KE SELURUH DUNIA


(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Fransiskus Xaverius, Imam & Pelindung Misi – Senin, 3 Desember 2012)

Lalu Ia berkata kepada mereka, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun yang mematikan, mereka tidak akan mendapat celaka; merek akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”

Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke surga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergi memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya. (Mrk 16:15-20)
Bacaan Pertama: 1Kor 9:16-19,22-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2

Para pakar tafsir Kitab Suci berpendapat bahwa Injil Markus berakhir pada Mrk 16:8. Bagian kedua dari Mrk 16:8 sampai dengan Mrk 16-20 ditandai dengan tanda kurung. Ini dilakukan untuk menyatakan bahwa Mrk 16:8b-20 adalah “tambahan”; sebuah ringkasan yang ditambahkan kemudian untuk menggantikan bagian penutup yang tidak ada, mungkin karena Markus keburu wafat sebelum sempat menulisnya atau yang pada suatu saat hilang entah ke mana. Bacaan Injil hari ini adalah sebagian dari “tambahan” dimaksud, namun tentunya ini bukanlah sembarang “tambahan” karena Gereja – di bawah bimbingan Roh Kudus – menyetujuinya untuk menjadi bagian dari Injil Markus (termasuk dalam kanon Kitab Suci).

Bacaan Injil hari menekankan bahwa Gereja mempunyai tugas-tugas tertentu yang diberikan oleh Yesus sendiri.

Pertama, bahwa Gereja mempunyai suatu tugas pewartaan – evangelisasi. Ini adalah tugas Gereja, dengan demikian adalah tugas setiap orang Kristiani untuk mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus kepada mereka yang belum pernah mendengarnya atau kepada saudari-saudara seiman yang suam-suam kuku. Tugas orang Kristiani adalah sebagai “bentara” Yesus Kristus.

Kedua, bahwa Gereja mempunyai tugas untuk menyembuhkan (Inggris: healing task). Kita tidak perlu pergi jauh-jauh untuk menyadari bahwa banyak sekali warga masyarakat yang menderita sakit fisik maupun spiritual. Kristianitas mempunyai keprihatinan terhadap kesehatan badani maupun rohani umat manusia. Yesus ingin melihat manusia sehat seutuhnya.

Ketiga, bahwa Gereja memiliki sumber kuat-kuasa. Memang dalam hal ini kita tidak perlu membaca teks Kitab Suci secara harfiah. Kita tidak perlu berpikir bahwa orang Kristiani harus memegang ular berbisa dan/atau minum racun mematikan untuk membuktikan bahwa dirinya memiliki kuat-kuasa ilahi. Di balik bahasa alkitabiah yang penuh gambaran ini memang ada keyakinan bahwa setiap orang Kristiani dipenuhi dengan kuat-kuasa yang dapat mengatasi masalah-masalah kehidupan, yang orang lain tidak mempunyainya.

Sekitar 20 tahun lalu saya pernah menghadiri acara/kebaktian(?) di Jakarta yang “dibintangi” oleh seorang pendeta yang bernama Pastor Win Worley dari Hegewisch Baptist Church, Highland, Indiana, Amerika Serikat. Acara yang dihadiri oleh ratusan pengunjung tersebut berpusat pada bacaan Injil Markus hari ini, dan atraksi utamanya adalah pengusiran roh-roh jahat. Saya menyaksikan sendiri cukup banyak orang yang “dibebaskan” dari kuasa roh-roh jahat dan mereka rata-rata memuntahkan cairan hijau. Mengerikan memang, dan keesokan harinya saya tidak datang lagi ke pertemuan selanjutnya. Di depan saya sekarang ada salah satu bukunya: “BATTLING THE HOSTS OF HELL – DIARY OF AN EXORCIST”. Karena merupakan sebuah diary, maka buku ini dipenuhi dengan catatan tentang pengusiran roh-roh jahat. Perang melawan roh-roh jahat (pertempuran spiritual) memang merupakan realitas setiap hari, namun tidak perlu dibesar-besarkan seakan-akan Iblis dan begundal-begundalnya itu tidak terkontrol oleh kuasa Yesus Kristus. Sebaliknya juga, janganlah kita dengan mudahnya mengatakan bahwa keberadaan Iblis dan roh-roh jahat adalah fantasi belaka.

Lagi-lagi di Amerika Serikat: di gereja-gereja di negara itu, khususnya di Selatan dan Midwest terdapat gereja-gereja di mana terdapat upacara memegang ular-ular berbisa sebagai praktek keagamaan yang diharuskan atas diri para anggotanya. Apabila tertarik, saya mengajak anda untuk membaca buku (tidak tebal dengan banyak foto) dengan judul “SNAKE HANDLERS: GOD-FEARERS? OR FANATICS?” – A Religious Documentary by Robert W. Pelton & Karen W. Garden (Nashville/New York: Thomas Nelson Inc., 1974. Yang penting untuk direnungkan adalah bagaimana ayat-ayat Kitab Suci dapat ditafsir secara harfiah dan menjadi begitu ekstrim dalam perwujudannya.

Keempat, bahwa Gereja tidak pernah dibiarkan sendiri untuk melakukan pekerjaannya. Kristus senantiasa bekerja dengan Gereja, dalam Gereja dan melalui Gereja. Tuhan Yesus Kristus tetap “berfungsi” sebagai Kepala Gereja yang adalah tubuh-Nya. Dan, “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).
S. Fransiskus Xaverius. Pada hari ini kita merayakan pesta S. Fransiskus Xaverius [1506-1552], yang bersama-sama dengan S. Teresa dari Lisieux [1873-1897] adalah orang-orang kudus pelindung Misi. S. Fransiskus Xaverius adalah misionaris terbesar yang dikenal Gereja sejak rasul Paulus. Tidak lama setelah Ignatius dari Loyola mendirikan Serikat Yesus, Fransiskus Xaverius mengikuti jejak kawan sekamarnya, Petrus Faber, bergabung dengan Serikat Yesus. Hatinya digerakkan oleh Roh Kudus untuk bergabung karena pertanyaan penuh tantangan yang diajukan oleh S. Ignatius dari Loyola: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26).
Kegiatan misioner S. Fransiskus Xaverius di Asia sudah diketahui dengan baik oleh banyak orang, termasuk kepulauan Maluku di Indonesia. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila nama baptis Fransiskus Xaverius juga sudah menjadi nama “pasaran” di kalangan umat Katolik di Indonesia.

Sebelum sempat melakukan tugas misionernya di daratan Tiongkok, pada tanggal 21 November 1552 Fransiskus Xaverius jatuh sakit demam serta terkurung di pondok rindangnya di pantai pulau kecil San Jian. Dia dirawat oleh Antonio, seorang pelayan Tionghoa yang beragama Katolik. Beberapa tahun kemudian, Antonio menulis sebuah laporan tentang hari-hari terakhir hidup orang kudus itu di dunia. Fransiskus meninggal dunia pada tanggal 3 Desember dan jenazahnya dikuburkan di pulau itu. Pada musim semi tahun berikutnya, jenazahnya dibawa ke Malaka untuk dimakamkan di sebuah gereja Portugis di sana. Beberapa tahun kemudian sisa-sisa tubuhnya dibawa lagi ke Goa di India untuk dimakamkan di GerejaBom Jesus.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau berhasil memenangkan banyak jiwa bagi-Mu lewat pewartaan Injil yang dilakukan Santo Fransiskus Xaverius. Anugerahilah kami semangat seperti yang dimiliki orang kudus ini dalam mewartakan Injil. Kami percaya bahwa sebagai Gereja, kami mempunyai tugas untuk mewartakan Injil, menyembuhkan penyakit yang diderita umat manusia, dan untuk itu kami Kauberi kuasa dan kami pun percaya bahwa Engkau tidak akan membiarkan kami bekerja sendiri. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Kor 9:16-19,22-23), bacalah tulisan berjudul “JIKA AKU MEMBERITAKAN INJIL, AKU TIDAK MEMPUNYAI ALASAN UNTUK MEMEGAHKAN DIRI !!!” (bacaan untuk tanggal 3-12-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com/; kategori: 12-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2012.
Cilandak, 27 Desember 2012 [Peringatan S. Fransiskus-Antonius Pasani, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
Dikirim melalui milis

Dipublikasi di Buletin | Tag , , | Tinggalkan komentar

BANGKITLAH DAN ANGKATLAH KEPALAMU


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Kamis, 29 November 2012)
Keluarga Fransiskan: Pesta Semua Orang Kudus Tarekat

“Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan ketika semua yang telah tertulis akan digenapi. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesusahan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.”
“Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat.” (Luk 21:20-28)

Bacaan Pertama: Why 18:1-2,21-23; 19:1-3,9; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

Bacaan Injil pada hari ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama menceritakan kepada kita tentang pengepungan dan kejatuhan kota Yerusalem pada tahun 70. Bagian kedua “meramalkan” kedatangan Anak Manusia pada akhir zaman.

Santo Lukas menulis Injilnya sekitar tahun 75. Penghancuran Yerusalem telah terjadi dan Lukas menceritakannya seperti apa yang telah terjadi sesungguhnya. Akan tetapi, kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya (Parousia) belum terjadi. Lukas menggambarkan hal ini dengan menggunakan bahasa profetis/kenabian yang mendalam. Dari bacaan ini juga jelas bahwa kedatangan Yesus untuk kedua kalinya tidak akan terjadi dalam waktu yang dekat. Umat Kristiani diingatkan bahwa mereka harus menanti, dan sementara mereka menanti mereka pun akan menderita karena penganiayaan-penganiayaan dari pihak-pihak yang anti-Kristiani. Bagaimana pun Yesus sendiri harus melalui Jalan Salib untuk mencapai kemuliaan-Nya. Tentu saja para murid-Nya tidak boleh mengharapkan sesuatu yang lebih ringan.

Iman akan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, iman akan kemenangan final pada akhir zaman, memberikan dukungan kuat kepada umat Kristiani awal, walaupun kedatangan kemenangan ini masih lama. Iman yang sama harus mendukung kita juga. Pengharapan akan kemenangan final ini adalah alasan dasariah untuk menjalani kehidupan Kristiani, untuk setia terhadap panggilan Yesus.

Yesus bersabda, “… bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat” (Luk 21:28). Kata Yunani yang digunakan di sini adalah apolytrosis, artinya suatu “pembelian kembali”. Dalam kasih-Nya, Allah telah membeli kita kembali, umat-Nya.

Nubuatan ini juga bagi kita semua. Janji Yesus untuk datang kembali berlaku bagi kita juga. Kita telah dibebaskan, ditebus, dibeli kembali. Pengampunan, penyembuhan, keutuhan dan hidup baru dapat menjadi milik kita dalam sakramen-sakramen kasih Allah yang menebus. Bukti dan tanda penebusan yang final adalah kedatangan kembali Yesus dalam kemuliaan.

Dengan demikian, marilah kita bangkit dan mengangkat kepala kita. Kita adalah anak-anak Allah yang telah ditebus. Allah telah mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya. Yang dituntut dari diri kita masing-masing sederhana saja: kita harus tetap setia kepada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, selagi kami menantikan kedatangan-Mu untuk kedua kalinya, kami memuji-muji Engkau untuk pembebasan yang telah Engkau bawa kepada kami dalam Sakramen-sakramen Gereja-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Why 18:1-2,21-23; 19:1-3,9), bacalah tulisan yang berjudul “BABEL DIRUNTUHKAN” (bacaan tanggal 29-11-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com/; kategori: 12-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2012.
Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:20-28), bacalah tulisan berjudul “TENTANG RUNTUHNYA YERUSALEM DAN KEDATANGAN KRISTUS” (bacaan tanggal 24-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM, dan “ANAK MANUSIA DATANG DALAM AWAN DENGAN SEGALA KEKUASAAN DAN KEMULIAAN-NYA” (bacaan tanggal 24-11-11) dalam situds/blog SANG SABDA.

Cilandak, 25 November 2012 [HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sumber: Dikirim oleh Bambang Setiono melalui milis

Dipublikasi di Buletin | Tag , | Tinggalkan komentar

PENDENGAR DAN PELAKU FIRMAN


(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI, Rabu 15-2-12)

Saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab kemarahan manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.

Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seseorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia seumpama seseorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Ia memandang dirinya lalu pergi dan segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi siapa yang meniliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar lalu melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

Jikalau seseorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. Ibadah yang murni dan tidak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya diri sendiri tidak dicemarkan oleh dunia. (Yak 1:19-27)

Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5; Bacaan Injil: Mrk 8:22-26

Sumber: PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com, Dikirim melalui milis.

Dipublikasi di Renungan Harian | Tinggalkan komentar

MEMULIAKAN ALLAH DENGAN SEGENAP DIRI KITA


Courtesy of elijahmagazine.com

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Fransiskus dari Sales, Uskup & Pujangga Gereja, Selasa 24-1-12)
Hari Ketujuh Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita. Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN (YHWH) itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan. Dan Daud menari-nari di hadapan YHWH dengan sekuat tenaga; Ia berbaju efod dari kain lenan.

Daud dan seluruh orang Israel mengangkut tabut YHWH itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala.

Tabut YHWH itu dibawa masuk, lalu diletakkan di tempatnya, di dalam kemah yang dibentangkan Daud untuk itu, kemudian Daud mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan di hadapan YHWH. Setelah Daud selesai mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan, diberkatinyalah bangsa itu demi nama YHWH semesta alam. Lalu dibagikannya kepada seluruh bangsa itu, kepada seluruh khalayak ramai Israel, baik laki-laki maupun perempuan, kepada masing-masing seketul roti bundar, sekerat daging, dan sepotong kue kismis. Sesudah itu pergilah seluruh bangsa itu, masing-masing ke rumahnya. (2Sam 6:12b-15,17-19)

Mazmur Tanggapan: Mzm 24:7-10; Bacaan Injil: Mrk 3:31-35

“Daud menari-nari di hadapan YHWH dengan sekuat tenaga” (2Sam 6:14).

Dalam memuji-muji YHWH-Allah, Daud memang tidak tanggung-tanggung. Terkesan ia sungguh dipenuhi – kalau tidak boleh dikatakan “dirasuki” – oleh Roh Allah sendiri; seluruh anggota tubuhnya dipersembahkannya pada upacara diangkatnya Tabut YHWH dari rumah Obed-Edom ke kota Daud. Ia tidak mempedulikan siapakah yang menyaksikan upacara itu dan apakah yang ada dalam benak mereka, positif ataupun negatif, karena bagi Daud yang penting adalah memuliakan YHWH-Allah dengan segenap dirinya. Misalnya, dalam ayat 16 (tidak menjadi bagian dari bacaan hari ini) dicatat, bahwa Mikhal (anak Saul dan istri Daud; lihat 1Sam 18:20-27) juga menanggapi perilaku Daud dengan sikap negatif.

Orang-orang mengungkapkan puji-pujian mereka kepada Allah dengan cara-cara yang berbeda, seringkali seturut kepribadian masing-masing. Kitab Suci menggambarkan Daud sebagai seorang pribadi yang menyenangi musik, penuh gairah, sebagaimana dicerminkan oleh doa-doanya. Apabila anda melihat doa-doa Daud itu aneh, ingatlah bahwa bukan caranya berdoa yang membuatnya dipilih Allah (1Sam 13:14), melainkan kenyataan bahwa dia menyembah Allah dengan segala kekuatan dirinya. Dengan menggunakan segala hal yang dimilikinya, Daud memberikan dirinya secara lengkap-total untuk memuji-muji YHWH-Allah.

Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: “Apakah hidup doa saya dicirikan dengan suatu determinasi yang serupa?” Sebagai raja Israel, Daud tentunya sibuk dan mempunyai banyak urusan dan isu yang  membutuhkan perhatiannya. Namun pada saat itu sang raja memilih untuk sementara menyingkirkan segala urusan dunia, dan mengerahkan seluruh energinya guna memuliakan YHWH, sang “Raja segala raja”.

Bagi kita pun doa harus dimulai sebagai suatu pilihan. Doa seringkali dimulai dengan sebuah tindakan penuh determinasi dari kehendak, yang dapat ditransformir oleh-Nya menjadi suatu hubungan kasih. Allah memang sangat bermurah hati! Dia menerima upaya kita dan sebagai respons, Dia mencurahkan rahmat-Nya yang berkelimpahan kepada kita.

Allah senang akan sembah-bakti kita kepada-Nya. Allah senang melihat kita menyediakan waktu untuk mengungkapkan rasa syukur kita kepada-Nya. Dia senang berada bersama kita. Oleh karena itu, marilah kita membuat keputusan hari ini untuk selama beberapa saat lamanya melepaskan diri dari urusan kita sehari-hari dan juga distraksi-distraksi lainnya, dan menggunakan waktu yang tersedia untuk berada bersama Allah. Anda bertanya: “Bagaimana?” Abaikanlah telepon, matikanlah televisi, atau pergilah ke sebuah tempat di mana anda tidak dapat diganggu. Pertimbangkanlah untuk keluar dari  zona kenyamanan (comfort zone) anda dan ungkapkanlah puji-pujian anda kepada-Nya dengan suatu cara baru yang bebas-lepas – misalnya dengan menari, memainkan alat musik, menulis sebuah puisi, membaca atau menyanyikan potongan bacaan Kitab Suci sebagai sebuah doa. Ingatlah, bahwa bagi Allah, jauh lebih penting daripada bentuk doa mana pun yang anda pilih adalah, kenyataan – seperti halnya  dengan Daud – , bahwa anda telah mengambil keputusan untuk berada di hadirat-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terimalah pujianku kepada-Mu sebagai suatu tanda kasihku dan hormatku kepada-Mu. Engkau memang Mahalain dalam segala kebaikan-Mu, ya Allahku. Semoga mulutku senantiasa memuji-muji nama-Mu yang sungguh kudus, agung dan menakjubkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:31-35), bacalah tulisan dengan judul “SIAPA SAJA YANG MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH” (bacaan untuk tanggal 24-1-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 12-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2012.

Cilandak, 10 Januari 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sumber: dikirim melalui milis

Dipublikasi di Buletin, Renungan Harian | Tinggalkan komentar

AKAN MENERIMA KEMBALI SERATUS KALI LIPAT


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX, Selasa 16-8-11)

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekali lagi Aku berkata, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Ketika murid-murid mendengar itu, sangat tercengang mereka dan berkata, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”

Lalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki dan saudaranya perempuan, atau bapak atau ibunya, atau anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.

Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.” (Mat 19:23-30)

Bacaan Pertama: Hak 6:11-24a; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9,11-14

Dalam bacaan Injil sebelum ini (Mat 19:16-22), terlihat bahwa sukar dan tidak mungkinlah bagi si orang muda kaya itu untuk menerima undangan Yesus, karena keterlekatannya pada harta miliknya. Ada kalimat yang terasa sangat menyedihkan dalam bacaan Injil itu: “Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya” (Mat 19:22).  Orang muda kaya itu tidak mampu mengambil jalan yang disediakan Yesus menuju kehidupan kekal karena kekayaannya yang berlimpah tegak berdiri sebagai penghalang di tengah-tengah antara dirinya dan Yesus serta kehidupan kekal yang dijanjikan-Nya kepada setiap murid-Nya.

Kejadian ini memberi kesempatan bagi Yesus untuk mengajar bagaimana harta kekayaan dapat sungguh menjadi suatu penghalang terhadap kemuridan. Akhirnya, Yesus mengatakan kepada para murid-Nya, bahwa semakin banyak harta kekayaan yang kita miliki, semakin susah pula bagi kita untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah karunia dari Allah yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Harta kekayaan tentu saja dapat menjauhkan kita dari Kerajaan Allah, teristimewa  harta kekayaan yang diperoleh melalui kecurangan atau kegiatan yang tidak etis. Lagipula, sekali kita memiliki harta kekayaan yang banyak, hal itu dapat mengisolir kita dari orang-orang lain dan malah dapat membawa kita kepada kegiatan eksploitasi dan opresi terhadap orang-orang lain. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengingatkan kita tentang bahaya-bahaya dari suatu hasrat akan uang (cinta uang) yang tidak teratur:

“Satu teori, yang menjadikan keuntungan sebagai patokan yang satu-satunya dan sebagai tujuan terakhir dari segala kegiatan ekonomi tidak dapat diterima secara moral. Kerasukan akan uang yang tidak terkendalikan menimbulkan akibat-akibat buruk. Ia adalah salah satu sebab dari banyak konflik yang mengganggu tata masyarakat. Sistem-sistem, yang ‘mengorbankan hak-hak asasi perorangan serta kelompok-kelompok demi organisasi kolektif penyelenggara produksi’, bertentangan dengan martabat pribadi manusia (Gaudium et Spes 65,2). Segala sesuatu yang merendahkan manusia menjadi sarana guna memperoleh keuntungan, memperhamba manusia, mengantar ke pendewaan uang dan menambah penyebarluasan ateisme. ‘Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon’ (Mat 6:24; Luk 16:13)” (KGK 2424).

Setelah Yesus memberi pengajaran-Nya mengenai harta kekayaan, Ia berjanji kepada para murid-Nya yang sedang merasa bingung, bahwa mereka yang telah meninggalkan keluarga dan harta milik mereka demi mengikuti jejak-Nya sebagai murid-murid-Nya akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. Pada akhirnya, Anak Manusia akan bersemayam di takhta kemuliaan-Nya (Mat 19:28-29). Kemudian segala peristiwa itu akan menjadi lengkap dalam Yesus. Peristiwa-peristiwa yang kelihatannya membingungkan sekarang akan menjadi masuk akal pada masa mendatang. Pengharapan kita berakar pada kenyataan bahwa melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus telah membuat mungkin bagi kita untuk hidup di jalan sebagaimana yang telah diajarkan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, curahkanlah kepadaku rahmat untuk mencari terlebih dahulu Kerajaan Allah dan untuk menaruh kepercayaan pada kasih-Mu yang berkelimpahan kepadaku. Amin.

Cilandak,  3 Agustus 2011

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
Dikirim melalui milis oleh Bambang Setiono

Dipublikasi di Buletin, Renungan Harian | Tag , , | Tinggalkan komentar

KAMU TELAH MEMPEROLEHNYA DENGAN CUMA-CUMA, KARENA ITU BERIKANLAH PULA DENGAN CUMA-CUMA


(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV, Kamis 7-7-11)

Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa kantong perbekalan dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat nafkahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Apabila seseorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Sresungguhnya Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Mat 10:7-15) Bacaan Pertama: Kej 44:18-21,23b-29;45:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:16-21 Pada waktu Yesus mengutus kedua belas rasul-Nya itu memberitakan Injil kepada orang-orang lain, Ia menekankan bahwa mereka harus menjadi seperti diri-Nya sendiri. Hanya apabila mereka bertumbuh dalam keserupaan dengan diri-Nya maka mereka dapat melakukan pekerjaan pelayanan mereka dengan efektif. Ketika Yesus bersabda: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat 10:8), sebenarnya Dia sedang mengajarkan para murid-Nya (rasul) lebih daripada sekadar bagaimana melayani orang-orang lain.

Yesus sendiri adalah yang paling besar dan paling rendah hati daripada segala hamba. Satu-satunya cara agar para murid Yesus dapat memberi dengan bebas adalah menjadi seperti Yesus, yang selalu berdoa kepada Bapa-Nya. Karena Dia percaya bahwa Allah akan memenuhi segala kebutuhan-Nya, maka Yesus dengan bebas dan penuh kemurahan hati memberikan semuanya yang telah diterima-Nya dari Bapa-Nya di surga. Atas dasar alasan inilah Yesus mengatakan kepada kedua belas rasul-Nya untuk tidak menerima upah uang atau membawa pakaian ekstra. Allah akan menyediakan apa saja yang mereka butuhkan (Mat 10:9-10).

Karena Yesus begitu pasrah akan pemeliharaan Bapa surgawi dan begitu yakin akan kehadiran-Nya, maka Dia bebas untuk datang dan pergi, untuk mengucapkan kata-kata dan berbuat, seturut arahan dari Allah sendiri. Yesus mengetahui bahwa Bapa-Nya akan memperhatikan-Nya, dan Ia mengambil risiko-risiko yang orang-orang lain tidak merasa bebas untuk mengambilnya karena mereka mengandalkan kekuatan manusia semata.

Yesus menginstruksikan para murid-Nya untuk mempraktekkan kebebasan yang sama, yaitu menentukan rumah mana yang “layak” dan mana yang “tidak layak” untuk dihuni oleh mereka dalam rangka melaksanakan pekerjaan misioner mereka (Mat 10:11-12). Mereka hanya dapat membuat pilihan selama mereka tetap rendah hati dan peka trerhadap pimpinan Allah.

Kita barangkali merasa kewalahan karena tidak mempunyai waktu yang cukup untuk keluarga, apalagi untuk orang-orang lain. Namun Yesus menginstruksikan para murid-Nya (termasuk kita, bukan?) untuk mewartakan Injil, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, dan mengusir roh-roh jahat (Mat 10:7-8). Allah telah memilih kita masing-masing untuk melayani-Nya. Apakah kita berfungsi sebagai orangtua, guru, biarawati atau biarawan, klerus, atau awam biasa seperti saya ini, kita semua sebenarnya dipanggil untuk menaruh hidup kita di tangan-tangan Yesus dan menaruh kepercayaan bahwa Dia akan memperhatikan setiap kebutuhan kita. Semakin kita belajar mengenai kebenaran fundamental ini, semakin efektif kiranya kita dalam melaksanakan panggilan kita untuk mengasihi dan melayani sesama kita.

DOA: Tuhan Yesus, datanglah dan berdiamlah dalam diri kami. Biarlah hidup-Mu dalam diri kami bertumbuh sehingga dengan demikian kami dapat menjadi lebih serupa dengan-Mu. Tolonglah kami mencari Engkau dalam doa agar kami dapat belajar menaruh kepercayaan kepada-Mu untuk segala kebutuhan kami. Tolonglah kami untuk senantiasa mewartakan Kabar Baik-Mu kepada orang-orang lain secara cuma-cuma. Amin.

Cilandak, 18 Juni 2011
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Dipublikasi di Buletin, Renungan Harian | Tinggalkan komentar

MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT TUHAN


(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KABAR SUKACITA, Jumat 25 Maret 2011)

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38)
Bacaan Pertama: Yes 7:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-11; Bacaan Kedua: Ibr 10:4-10 Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Buletin, Renungan Harian | Tinggalkan komentar