Tepuk Tangan saat Misa

Saudaraku,
Pemahaman ini sudah beberapa kali diberikan oleh Romo, tetapi masih belum melekat pada umat kita. Mungkin ada baiknya disetiap misa yang diiringi oleh koor2 yang khusus , terlebih dahulu protokol mengingatkan pada awal misa agar umat tidak bertepuk tangan selama misa berlangsung. Harus dipahami, koor menyanyi untuk memuji Tuhan – untuk Tuhan, dan bukan untuk “Show” ke umat !!  pendapat anda ?
Surat Pembaca Pastor Prof. Dr.  Franz Magnis-Suseno, SJ di Majalah HIDUP 17 Januari 2010
PERKENANKAN SAYA berbagi grundelan dengan para pembaca terhormat. Malam Natal saya konselebrasi dalam misa di salah satu gereja paroki.
Perhiasannya bagus, liturgi pantas, khotbah menyentuh, koor menyanyi indah, umat bersemangat.
Hanya ini: waktu Komuni suci dibagikan, seorang bapak dari koor, dengan suara penyanyi professional, menyanyi solo, sangat ekspresif. Sesudah selesai menyanyi, umat penuh semangat bertepuk tangan… Pada saat komuni dibagi!
Saya amat terkejut !! Kok bisa !
Komuni adalah peristiwa paling sakral bagi umat Katolik, …….bahkah ritus paling sakral dari semua agama. Pada saat itu, seluruh perhatian umat seharusnya seratus persen terpusat hanya pada satu ini: Yesus, Allah-beserta- kita yang sedang datang.
Masak pada saat sesuci itu umat membawa diri  seperti penonton sinetron! (Pastor paroki kemudian menceritakan bahwa ia sudah memperingatkan umat tetapi tanpa hasil, dan bahwa pernah waktu itu mau memberikan hosti suci kepada seorang umat, dia itu bertepuk tangan dulu).
Apa umat belum pernah membaca I Korintus 11:29?
Terus terang, andaikata saya yang memimpin upacara, saya akan langsung menghentikan seluruh pembagian komuni dan mengajak umat berdoa doa tobat.
Saya mengalami tepuk tangan seperti itu juga pada perayaan ekaristi lain.
Suatu kesesatan penghayatan yang memalukan apabila orang tidak lagi bisa membedakan antara ibadat yang diarahkan kepada Allah dan acara hiburan  !
Apakah dilupakan bahwa hormat semua pemeran dalam Ekaristi –pastor, pengkhotbah, koor, umat, dll terletak dalam pelayanan tanpa pamrih, demi kemuliaan Tuhan, yang mereka berikan?
Apakah koor-koor kita lupa bahwa tugas satu-satunya mereka adalah membuka hati umat, bagi Tuhan, dengan keindahan lagu-lagu mereka. Tentu tepuk tangan pada akhir Misa, pada saat pastor menyatakan terima kasih adalah tepat dan sesuai. Sebagai catatan: Lagu solo sebaiknya hanya diadakan pada akhir ibadat.
Hal itu sepenuhnya juga berlaku bagi Ekaristi perkawinan.
Kalau perkawinan ditempatkan dalam Ekaristi, seluruh perayaan harus berupa pujaan terhadap Allah dan bukan pemanis para mempelai. Kalau iman kepercayaan  kita pada Ekaristi mau credible, kita harus belajar kembali menunjukkan sikap hormat terhadap Allah yang hadir.
Franz Magniz-Suseno SJ
Johar Baru, Jakarta Pusat.
Dikirim oleh Lucia Darmadi melalui milis.

7 Catatan bagi Ajaran Sang Guru

7 Catatan bagi Ajaran Sang Guru :
Catatan 1 :
Socratres mengajar selama 40 tahun, Plato 50 tahun, Aristoteles 40 tahun. Namun Yesus hanya mengajar 3 tahun. Ajaran Nya dalam, namun sederhana
Apa yang diwariskan Yesus kedunia selama pelayanan 3 tahun, melewati apa yang dapat diwariskan seluruh filsuf dan guru-guru terbesar dijadikan satu sepanjang abad. Fakta kecil ini sekaligus sudah menempatkan Yesus dalam jajaran Maha Guru terbesar.
Catatan 2 :
Yesus menyampaikan ajaran Nya secara lisan kepada manusia. Lalu ditulis dan dibukukan dalam alkitab yang sakral dan berwibawa.
Masa pelayananNYA didunia amat singkat, dan Dia tidak akan menghabiskan waktuNYA untuk menulis. Ia bahkan tidak perlu mengawasi penulisan, atau menyuruh orang lain untuk menulis ajaranNYA. Anehkah ? Sama sekali tidak !!! Alasannya sangat mendasar. Ajarannya yang disebut Injil itu terlalu berwibawa untuk bisa didiamkan dan dibendung. Yesus tahu Injil akan ditulis oleh murid-muridnNya, kelak setelah mereka dibukakan mata hatinya oleh Roh Kudus (Yoh 14:26; 16:12-13 1Korintus 2:13) Itulah yang terjadi ! AjaranNYA dibukukan, dan telah memberkati ber miliar hati manusia disepanjang zaman. Kitab yang memberi rahmat ini telah menjadi bacaan renungan dan kupasan yang paling luas diseluruh muka bumi. Kini telah diterjemahkan kedalam 1200 bahasa/dialek dunia. Suatu prestasi tiada banding.
Catatan ke 3.
Ajaran yang termulia TIDAK akan ada nilainya, bila pengajarnya sendiri tidak berperilaku mulia seperti yang diajarkan. Yesus bukan hanya mengajar, tetapi sekaligus mencontohkannya. Apa yang keluar dari mulutNYA, itu yang diwujudkanNYA. . Bahkan apa yang terucapkan untuk masa mendatang, itupun terjadi tanpa kecuali. Keselarasan antara ajaran dan perilaku, antara ucapan dan perbuatan, antara nubuat dan penggenapannya, sungguh merupakan sebuah kesaksian diri Yesus yang mustahil dapat diduplikatkan Guru lainnya.
Catatan ke 4.
Setiap kali Yesus muncul mengajar secara terbuka, Ia otomatis menarik perhatian ribuan orang yang datang berhimpun. Tidak ada panitia yang dibentuk untuk menarik masa. Tidak ada bendahara dan seksi konsumsi. Ia melakukannya secara SOLO. Bahkan Ia sendiri menggelar sebuah perjamuan spektakuler kepada 5000 orang laki-laki dewasa (belum termasuk perempuan dan anak-anak).
Setiap hari, selama 1000 an hari, Ia mengajar dan berkarya non-stop, termasuk mujizat-mujizat yang mustahil bagi mata dan otak manusia.
Dari pagi hingga malam, dari Galilea hingga Yudea, Yesus berjalan kaki berkeliling dari kota ke kota dan dari desa kedesa sambil mengajar (Lukas 13:22). Ia menjelajahi seluruh pelosok untuk mencari dan menyelamatkan domba-dombaNya yang tersesat dan yang hilang. Ia menyebut diriNYA selaku Anak Manusia yang selalu melayani walau tanpa fasilitas fisik apapun: “Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNYA (Mat 8:20). Siapa yang menyamai Nya ?
Catatan ke 5 : Yesus penuh kuasa
Yesus bukan mengajar dan berkhotbah seperti guru agama dan ahli taurat, namun mengajar dan berkhotbah penuh kuasa. “Takjublah orang banyak itu mendengar pengajaranNYA, sebab Ia mengajar sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat” (Mat 7 : 28-29; Luk 4 : 32)
Suatu ketika, para penjaga Bait Allah diperintahkan menangkap Yesus. Tetapi mereka pulang dengan tangan hampa. Saat ditanya : Mengapa kamu tidak membawa Dia?” Para penjaga menjawab : “Belum pernah seorang manusia berkata seperti itu” (Yoh 7:46)
Ya, setiap perkataan Yesus punya wibawa, sekalipun sering dihadapkan dengan pertanyaan sulit dan penuh jebakan, namun tak satupun dijawab dengan ragu, kabur, menanti-nati, keliru, atau kemudian di koreksi Semuanya menakjubkan para pendengarNYA. Sekali kata-kata itu keluar dari mulutNYA, itulah INJIL NYA yang kekal. “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKU tidak akan berlalu” (Mar 13:31)
Catatan 6 :
Ajaran Yesus yang terbesar adalah ajaran kasih. Kasih tingkat tinggi : Mengasihi Tuhan, sesama, bahkan musuh-musuh yang menyakitkan :” Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44) Dia pulalah yang membuktikan kasih tingkat tinggi kepada manusia.
Ini dirangkumkan Yesus dalam istilahNYA sebagai Gembala yang mengorbankan nyawa bagi domba-dombaNYA :
“Aku memberikan nyawaKU bagi domba-dombaKU” … Yoh 10:17
“Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya, dan kamu adalah sahabatKU” … Yoh 15:13
Sejarah mencatat bahwa Yesus benar-benar memberikan nyawaNYA diatas kayu salib demi manusia.
Memang semua agama mengklaim Tuhan maka pengasih dan penyayang. Namun Tuhan mana yang pernah membuktikan diriNYA berkorban bagi umatNYA ?
Hanya Yesus yang menyodorkan satu pembuktian antara AJARAN KASIHNYA dengan PERBUATANNYA, yaitu berkorban sampai mati dikayu salib.
Catatan 7 : PRODUKTIF sampai mati
Disaat saat terakhir di kayu salib, apakah orang masih peduli akan dunia dan mampu menyelamatkan manusia ? Mungkin ini hanya dalam mimpi saja.
Namun diatas kayu salib, orang yang bernama Yesus, justru sempat memecahkan rekor dunia, mengukir sebuah moral dan karyanya yang terbesar dalam sejarah.
Sejarah mencatat, bagaimana bencinya orang-orang Yahudi akan Yesus , sehingga lebih memilih bersumpah melaknati diri mereka sendiri ketimbang melepaskan Yesus dari hukuman salib. ” Salibkan Dia, salibkan Dia… Biar darahNYA ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami”
Yesus yang tersalib menyaksikan diriNYA dengan satu moral, ajaran pengampunan, yang tak terhapuskan oleh sejarah. DoaNYA kepada Sang Bapa : Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu, apa yang mereka perbuat” LUK 23: 34
Lebih dari itu, Yesus yang berjuang ditengah kesakitan dan kesulitan bernafas, saat kritis sesaat sebelum nyawaNYA tercabut, Yesus tetap produktif menyelamatkan seorang penjahat yang juga tersalib disampingNYA. Sipenjahat menyesali dosanya dan bertobat kepada Yesus sambil memohon :”Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau kelak datang sebagai raja” LUK 23:42. Yesus dengan otoritas ilahiNYA berkata :”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan AKU didalam firdaus” LUK 23: 43. Ini bukan sebuah janji moga-moga, bukan juga janji kelak, bahkan bukan janji boleh-boleh saja, tetapi janji kepastian, “hari ini juga, engkau bersama-sama dengan Aku”.

Catatan 1 :

Socratres mengajar selama 40 tahun, Plato 50 tahun, Aristoteles 40 tahun. Namun Yesus hanya mengajar 3 tahun. Ajaran Nya dalam, namun sederhana

Apa yang diwariskan Yesus kedunia selama pelayanan 3 tahun, melewati apa yang dapat diwariskan seluruh filsuf dan guru-guru terbesar dijadikan satu sepanjang abad. Fakta kecil ini sekaligus sudah menempatkan Yesus dalam jajaran Maha Guru terbesar. Baca selebihnya »

Kain Kafan dari segi Sejarah

Apa itu Kain Kafan Turin?
Kain Kafan Kudus, yang dalam bahasa Italia biasa disebut “La Santa Sindone” (= Kafan Kudus), adalah sehelai kain linen berukuran kurang lebih 4,36 x 1,10 meter; pada kain kafan terlihat gambar, baik bagian depan maupun bagian belakang, dari seorang laki-laki yang wafat setelah mengalami serangkaian aniaya dengan didera, dimahkotai duri, dipakukan pada salib, dan lambungnya ditikam dengan tombak. Kain ini diyakini sebagai kain yang dipergunakan Yusuf dari Arimatea untuk membungkus tubuh Yesus Kristus (Matius 27:59).
“Dan Yusufpun mengambil mayat itu, mengapaninya dengan kain lenan yang putih bersih”
Baca selebihnya »

HIDUP UNTUK MEMBERI

Di suatu sore hari pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip di sela-sela kepadatan kendaraan di sebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta.

Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru muda, sambil membagikan bungkusan tersebut, ia menyapa akrab setiap orang, dari Tukang Koran, Penyapu jalan, Tuna Wisma, sampai Pak Polisi.

Pemandangan itu membuatku tertarik, pikiranku langsung melayang membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan bungkusannya, apakah dia berjualan? Kalau dia berjualan apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau…?? untuk membunuh rasa penasaranku, aku pun membuntuti si anak kecil tersebut sampai
di seberang jalan, setelah itu aku langsung menyapa anak tersebut untuk aku ajak berbincang-bincang. De, boleh kakak bertanya? Silakan Kak. Baca selebihnya »

Buku Harian Ayah

Ayah dan ibu telah menikah lebih dari 30 tahun, saya sama sekali tidak pernah melihat mereka bertengkar.
Di dalam hati saya, perkawinan ayah dan ibu ini selalu menjadi teladan bagi saya, juga selalu berusaha keras agar diri saya bisa menjadi seorang pria yang baik, seorang suami yang baik seperti ayah saya. Namun harapan tinggallah harapan, sementara penerapannya sangatlah sulit. Tak lama setelah menikah, saya dan istri mulai sering bertengkar hanya akibat hal – hal kecil dalam rumah tangga. Baca selebihnya »

SUDAH CUKUP?

RENUNGAN HARIAN, RABU 10 JUNI 2009

SUDAH CUKUP? (Bacaan : 1 Timotius 6:3-10)

Sekelompok orang kristiani Amerika mengunjungi seorang pendeta di Kolkata (dulu: Kalkuta-Red), India. Mereka ingin melihat bagaimana ia melayani penduduk miskin di daerah kumuh. Selang beberapa hari, mereka prihatin melihat sang pendeta setiap hari mengayuh sepeda menyusuri kota yang panas dan berdebu. Di akhir kunjungan, mereka ingin membelikannya mobil bekas. Namun, sang pendeta menolak rencana itu. Mengapa? Ia berkata, “Lebih baik uang sebanyak itu kita pakai untuk melayani orang miskin. Hidup saya sudah cukup nyaman.”

Rasa cukup itu relatif. Paulus merasa berkecukupan “asal ada makanan dan pakaian” (ayat 8); sebaliknya, guru-guru palsu di Efesus selalu merasa kekurangan. Mereka sampai memanfaatkan pelayanan ibadah sebagai alat pencari keuntungan (ayat 5). Rasa cukup muncul dari cara orang memandang hidup. Orang yang gandrung mengumpulkan harta baru puas jika sudah punya segalanya. Padahal harta tak akan habis dikejar. Akibatnya, ia selalu merasa kekurangan. Sebaliknya, orang yang sadar bahwa harta itu fana, tak bisa dibawa mati, akan mencari yang lebih bernilai kekal. Baginya mencari Tuhan dan menaati perintah-Nya lebih utama dari mengumpulkan harta. Ini membuatnya merasa cukup dengan apa yang ada.

Adakah sebuah benda yang sangat ingin Anda miliki akhir-akhir ini? Benarkah Anda sangat memerlukannya atau sekadar ingin punya? Bisakah Anda hidup bahagia tanpanya? Memiliki harta benda tidaklah salah, tetapi jangan biarkan ia memiliki Anda. Jangan sampai kepuasan dan kebahagiaan hidup Anda ditentukan olehnya.

Orang miskin bukanlah mereka yang tak punya banyak harta melainkan mereka yang selalu merasa berkekurangan.

Dikirim oleh Shinta Kohar melalui milis.

HAJARAN KASIH

RENUNGAN HARIAN, SENIN 1 JUNI 2009

HAJARAN KASIH (Bacaan : Ibrani 12: 6-11)

Dunia mengenal Hellen Keller sebagai orang buta yang berhasil lulus sarjana, dan dalam keterbatasannya menjadi berkat bagi banyak orang. Sebenarnya, di balik sosok Hellen, ada tokoh yang jarang disorot. Yakni Anne Sullivan, guru privat Hellen. Dialah yang mengajar Hellen banyak hal. Namun, jangan berpikir ia mengajar dengan lemah lembut. Ketika Hellen kecil, Anne bahkan harus mendisiplin Hellen dengan sangat keras supaya ia bisa makan dengan sendok. Awalnya, orangtua Hellen keberatan dengan cara Anne yang menurut mereka terlalu disiplin. Namun, Anne meyakinkan orangtua Hellen bahwa jika mereka ingin anaknya berhasil, Hellen perlu didisiplin. Jika Anne tidak mendisiplin Hellen, dunia mungkin takkan pernah diberkati oleh seorang Hellen Keller.

Demikian pula dengan Bapa di surga. Karena Dia adalah Bapa yang baik, itu sebabnya Dia mendisiplin kita. Penulis surat Ibrani menuliskan didikan Tuhan dari sudut pandang Tuhan. Ia memberi kita petunjuk bagaimana harus bersikap ketika dihajar Tuhan. Pertama, jangan anggap enteng. Sikap menganggap enteng membuat kita tidak pernah belajar dari kesalahan yang kita buat, sehingga kita terus-menerus membuat kesalahan yang sama. Kedua, jangan putus asa (ayat 5). Putus asa membuat kita merasa tak punya harapan untuk maju. Ingat saja bahwa Tuhan mendidik bukan karena benci, sebaliknya karena Dia mengasihi dan menganggap kita anak-Nya (ayat 6).

Dididik dan dihajar Tuhan memang tidak menyenangkan. Namun, itulah bukti kasih Tuhan yang mendalam pada kita. Selama ini, bagaimana respons kita terhadap didikan Tuhan? Sepatutnya kita bersyukur dan menerima didikan-Nya.

Hajaran Tuhan adalah hajaran yang dilandasi oleh kasih bukan kebencian.

Dikirim oleh Shinta Kohar melalui milis.

ZIAKUL (Ziarah Kuliner) LINGKUNGAN FELICITAS 31 Mei 2009

Ziarah 3 Gereja dan wisata kuliner Katedral – Toasebio – Regina Caeli

GEREJA KATEDRAL Paroki Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga

Gereja Katedral Jakarta (nama resmi: Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga, De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming) adalah sebuah gereja di Jakarta. Gedung gereja ini diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu.

katedral1

Gereja yang sekarang ini dirancang dan dimulai oleh Pastor Antonius Dijkmans dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Provicaris Carolus Wenneker. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Cuypers-Hulswit ketika Dijkmans tidak bisa melanjutkannya, dan kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Jakarta. Baca selebihnya »

Sharing pengalaman perjalanan ke Ambon-Banda Neira-Makassar

Kawan kawan Lingkungan Felicitas,

Saya ingin membagi pengalaman saya mengunjungi Ambon, Banda Neira dan Makassar dari tgl. 24 April s/d 8 Mei 2009.  Kami berempat: saya, isteri dan besan kami dari Perancis bersama dalam perjalanan yang diatur oleh Inbound Travel agent.  Kami berangkat tgl. 24 April jam 01:30 dengan Lion Air ( Pesawat baru) langsung Jakarta – Ambon dan tiba sekitar jam 6:45 di Bandara Pattimura.

Di Ambon kami mengunjungi beberapa obyek wisata, termasuk kunjungan ke Sacred Eel dan Pekuburan ANZAC yang sangat terawat dan indah, kebetulan peringatan ANZAC jatuh pada tanggal 25 April, ketika kami berada di Ambon. Saat itu kegaiatan pengamanan dari militer cukup banyak, karena menghindari usaha pengibaran bendera RMS pada saat itu. Baca selebihnya »

My Name is Rose.

The first day of school our professor introduced himself and challenged us to get to know someone we didn’t already know. I stood up to look around when a gentle hand touched my shoulder. I turned around to find a wrinkled, little old lady beaming up at me with a smile that lit up her entire being.

She said, ‘Hi handsome. My name is Rose. I’m eighty-seven years old. Can I give you a hug?’ I laughed and enthusiastically responded, ‘Of course you may!’ and she gave me a giant squeeze. ‘Why are you in college at such a young, innocent age?’ I asked. She jokingly replied, ‘I’m here to meet a rich husband, get married, and have a couple of kids …’ Baca selebihnya »

Halaman Berikutnya »