MEMULIAKAN ALLAH DENGAN SEGENAP DIRI KITA

Courtesy of elijahmagazine.com

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Fransiskus dari Sales, Uskup & Pujangga Gereja, Selasa 24-1-12)
Hari Ketujuh Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani

Lalu Daud pergi mengangkut tabut Allah itu dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita. Apabila pengangkat-pengangkat tabut TUHAN (YHWH) itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan. Dan Daud menari-nari di hadapan YHWH dengan sekuat tenaga; Ia berbaju efod dari kain lenan.

Daud dan seluruh orang Israel mengangkut tabut YHWH itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala.

Tabut YHWH itu dibawa masuk, lalu diletakkan di tempatnya, di dalam kemah yang dibentangkan Daud untuk itu, kemudian Daud mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan di hadapan YHWH. Setelah Daud selesai mempersembahkan kurban bakaran dan kurban keselamatan, diberkatinyalah bangsa itu demi nama YHWH semesta alam. Lalu dibagikannya kepada seluruh bangsa itu, kepada seluruh khalayak ramai Israel, baik laki-laki maupun perempuan, kepada masing-masing seketul roti bundar, sekerat daging, dan sepotong kue kismis. Sesudah itu pergilah seluruh bangsa itu, masing-masing ke rumahnya. (2Sam 6:12b-15,17-19)

Mazmur Tanggapan: Mzm 24:7-10; Bacaan Injil: Mrk 3:31-35

“Daud menari-nari di hadapan YHWH dengan sekuat tenaga” (2Sam 6:14).

Dalam memuji-muji YHWH-Allah, Daud memang tidak tanggung-tanggung. Terkesan ia sungguh dipenuhi – kalau tidak boleh dikatakan “dirasuki” – oleh Roh Allah sendiri; seluruh anggota tubuhnya dipersembahkannya pada upacara diangkatnya Tabut YHWH dari rumah Obed-Edom ke kota Daud. Ia tidak mempedulikan siapakah yang menyaksikan upacara itu dan apakah yang ada dalam benak mereka, positif ataupun negatif, karena bagi Daud yang penting adalah memuliakan YHWH-Allah dengan segenap dirinya. Misalnya, dalam ayat 16 (tidak menjadi bagian dari bacaan hari ini) dicatat, bahwa Mikhal (anak Saul dan istri Daud; lihat 1Sam 18:20-27) juga menanggapi perilaku Daud dengan sikap negatif.

Orang-orang mengungkapkan puji-pujian mereka kepada Allah dengan cara-cara yang berbeda, seringkali seturut kepribadian masing-masing. Kitab Suci menggambarkan Daud sebagai seorang pribadi yang menyenangi musik, penuh gairah, sebagaimana dicerminkan oleh doa-doanya. Apabila anda melihat doa-doa Daud itu aneh, ingatlah bahwa bukan caranya berdoa yang membuatnya dipilih Allah (1Sam 13:14), melainkan kenyataan bahwa dia menyembah Allah dengan segala kekuatan dirinya. Dengan menggunakan segala hal yang dimilikinya, Daud memberikan dirinya secara lengkap-total untuk memuji-muji YHWH-Allah.

Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: “Apakah hidup doa saya dicirikan dengan suatu determinasi yang serupa?” Sebagai raja Israel, Daud tentunya sibuk dan mempunyai banyak urusan dan isu yang  membutuhkan perhatiannya. Namun pada saat itu sang raja memilih untuk sementara menyingkirkan segala urusan dunia, dan mengerahkan seluruh energinya guna memuliakan YHWH, sang “Raja segala raja”.

Bagi kita pun doa harus dimulai sebagai suatu pilihan. Doa seringkali dimulai dengan sebuah tindakan penuh determinasi dari kehendak, yang dapat ditransformir oleh-Nya menjadi suatu hubungan kasih. Allah memang sangat bermurah hati! Dia menerima upaya kita dan sebagai respons, Dia mencurahkan rahmat-Nya yang berkelimpahan kepada kita.

Allah senang akan sembah-bakti kita kepada-Nya. Allah senang melihat kita menyediakan waktu untuk mengungkapkan rasa syukur kita kepada-Nya. Dia senang berada bersama kita. Oleh karena itu, marilah kita membuat keputusan hari ini untuk selama beberapa saat lamanya melepaskan diri dari urusan kita sehari-hari dan juga distraksi-distraksi lainnya, dan menggunakan waktu yang tersedia untuk berada bersama Allah. Anda bertanya: “Bagaimana?” Abaikanlah telepon, matikanlah televisi, atau pergilah ke sebuah tempat di mana anda tidak dapat diganggu. Pertimbangkanlah untuk keluar dari  zona kenyamanan (comfort zone) anda dan ungkapkanlah puji-pujian anda kepada-Nya dengan suatu cara baru yang bebas-lepas – misalnya dengan menari, memainkan alat musik, menulis sebuah puisi, membaca atau menyanyikan potongan bacaan Kitab Suci sebagai sebuah doa. Ingatlah, bahwa bagi Allah, jauh lebih penting daripada bentuk doa mana pun yang anda pilih adalah, kenyataan – seperti halnya  dengan Daud – , bahwa anda telah mengambil keputusan untuk berada di hadirat-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terimalah pujianku kepada-Mu sebagai suatu tanda kasihku dan hormatku kepada-Mu. Engkau memang Mahalain dalam segala kebaikan-Mu, ya Allahku. Semoga mulutku senantiasa memuji-muji nama-Mu yang sungguh kudus, agung dan menakjubkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:31-35), bacalah tulisan dengan judul “SIAPA SAJA YANG MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH” (bacaan untuk tanggal 24-1-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 12-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2012.

Cilandak, 10 Januari 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Sumber: dikirim melalui milis

Posted in Buletin, Renungan Harian | Tinggalkan komentar

AKAN MENERIMA KEMBALI SERATUS KALI LIPAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX, Selasa 16-8-11)

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekali lagi Aku berkata, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Ketika murid-murid mendengar itu, sangat tercengang mereka dan berkata, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”

Lalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki dan saudaranya perempuan, atau bapak atau ibunya, atau anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.

Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.” (Mat 19:23-30)

Bacaan Pertama: Hak 6:11-24a; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9,11-14

Dalam bacaan Injil sebelum ini (Mat 19:16-22), terlihat bahwa sukar dan tidak mungkinlah bagi si orang muda kaya itu untuk menerima undangan Yesus, karena keterlekatannya pada harta miliknya. Ada kalimat yang terasa sangat menyedihkan dalam bacaan Injil itu: “Mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab banyak hartanya” (Mat 19:22).  Orang muda kaya itu tidak mampu mengambil jalan yang disediakan Yesus menuju kehidupan kekal karena kekayaannya yang berlimpah tegak berdiri sebagai penghalang di tengah-tengah antara dirinya dan Yesus serta kehidupan kekal yang dijanjikan-Nya kepada setiap murid-Nya.

Kejadian ini memberi kesempatan bagi Yesus untuk mengajar bagaimana harta kekayaan dapat sungguh menjadi suatu penghalang terhadap kemuridan. Akhirnya, Yesus mengatakan kepada para murid-Nya, bahwa semakin banyak harta kekayaan yang kita miliki, semakin susah pula bagi kita untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah karunia dari Allah yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Harta kekayaan tentu saja dapat menjauhkan kita dari Kerajaan Allah, teristimewa  harta kekayaan yang diperoleh melalui kecurangan atau kegiatan yang tidak etis. Lagipula, sekali kita memiliki harta kekayaan yang banyak, hal itu dapat mengisolir kita dari orang-orang lain dan malah dapat membawa kita kepada kegiatan eksploitasi dan opresi terhadap orang-orang lain. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengingatkan kita tentang bahaya-bahaya dari suatu hasrat akan uang (cinta uang) yang tidak teratur:

“Satu teori, yang menjadikan keuntungan sebagai patokan yang satu-satunya dan sebagai tujuan terakhir dari segala kegiatan ekonomi tidak dapat diterima secara moral. Kerasukan akan uang yang tidak terkendalikan menimbulkan akibat-akibat buruk. Ia adalah salah satu sebab dari banyak konflik yang mengganggu tata masyarakat. Sistem-sistem, yang ‘mengorbankan hak-hak asasi perorangan serta kelompok-kelompok demi organisasi kolektif penyelenggara produksi’, bertentangan dengan martabat pribadi manusia (Gaudium et Spes 65,2). Segala sesuatu yang merendahkan manusia menjadi sarana guna memperoleh keuntungan, memperhamba manusia, mengantar ke pendewaan uang dan menambah penyebarluasan ateisme. ‘Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon’ (Mat 6:24; Luk 16:13)” (KGK 2424).

Setelah Yesus memberi pengajaran-Nya mengenai harta kekayaan, Ia berjanji kepada para murid-Nya yang sedang merasa bingung, bahwa mereka yang telah meninggalkan keluarga dan harta milik mereka demi mengikuti jejak-Nya sebagai murid-murid-Nya akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. Pada akhirnya, Anak Manusia akan bersemayam di takhta kemuliaan-Nya (Mat 19:28-29). Kemudian segala peristiwa itu akan menjadi lengkap dalam Yesus. Peristiwa-peristiwa yang kelihatannya membingungkan sekarang akan menjadi masuk akal pada masa mendatang. Pengharapan kita berakar pada kenyataan bahwa melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus telah membuat mungkin bagi kita untuk hidup di jalan sebagaimana yang telah diajarkan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, curahkanlah kepadaku rahmat untuk mencari terlebih dahulu Kerajaan Allah dan untuk menaruh kepercayaan pada kasih-Mu yang berkelimpahan kepadaku. Amin.

Cilandak,  3 Agustus 2011

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS
Dikirim melalui milis oleh Bambang Setiono

Posted in Buletin, Renungan Harian | Tagged , , | Tinggalkan komentar

KAMU TELAH MEMPEROLEHNYA DENGAN CUMA-CUMA, KARENA ITU BERIKANLAH PULA DENGAN CUMA-CUMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV, Kamis 7-7-11)

Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa kantong perbekalan dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat nafkahnya. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Apabila seseorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. Sresungguhnya Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu.” (Mat 10:7-15) Bacaan Pertama: Kej 44:18-21,23b-29;45:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:16-21 Pada waktu Yesus mengutus kedua belas rasul-Nya itu memberitakan Injil kepada orang-orang lain, Ia menekankan bahwa mereka harus menjadi seperti diri-Nya sendiri. Hanya apabila mereka bertumbuh dalam keserupaan dengan diri-Nya maka mereka dapat melakukan pekerjaan pelayanan mereka dengan efektif. Ketika Yesus bersabda: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat 10:8), sebenarnya Dia sedang mengajarkan para murid-Nya (rasul) lebih daripada sekadar bagaimana melayani orang-orang lain.

Yesus sendiri adalah yang paling besar dan paling rendah hati daripada segala hamba. Satu-satunya cara agar para murid Yesus dapat memberi dengan bebas adalah menjadi seperti Yesus, yang selalu berdoa kepada Bapa-Nya. Karena Dia percaya bahwa Allah akan memenuhi segala kebutuhan-Nya, maka Yesus dengan bebas dan penuh kemurahan hati memberikan semuanya yang telah diterima-Nya dari Bapa-Nya di surga. Atas dasar alasan inilah Yesus mengatakan kepada kedua belas rasul-Nya untuk tidak menerima upah uang atau membawa pakaian ekstra. Allah akan menyediakan apa saja yang mereka butuhkan (Mat 10:9-10).

Karena Yesus begitu pasrah akan pemeliharaan Bapa surgawi dan begitu yakin akan kehadiran-Nya, maka Dia bebas untuk datang dan pergi, untuk mengucapkan kata-kata dan berbuat, seturut arahan dari Allah sendiri. Yesus mengetahui bahwa Bapa-Nya akan memperhatikan-Nya, dan Ia mengambil risiko-risiko yang orang-orang lain tidak merasa bebas untuk mengambilnya karena mereka mengandalkan kekuatan manusia semata.

Yesus menginstruksikan para murid-Nya untuk mempraktekkan kebebasan yang sama, yaitu menentukan rumah mana yang “layak” dan mana yang “tidak layak” untuk dihuni oleh mereka dalam rangka melaksanakan pekerjaan misioner mereka (Mat 10:11-12). Mereka hanya dapat membuat pilihan selama mereka tetap rendah hati dan peka trerhadap pimpinan Allah.

Kita barangkali merasa kewalahan karena tidak mempunyai waktu yang cukup untuk keluarga, apalagi untuk orang-orang lain. Namun Yesus menginstruksikan para murid-Nya (termasuk kita, bukan?) untuk mewartakan Injil, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, dan mengusir roh-roh jahat (Mat 10:7-8). Allah telah memilih kita masing-masing untuk melayani-Nya. Apakah kita berfungsi sebagai orangtua, guru, biarawati atau biarawan, klerus, atau awam biasa seperti saya ini, kita semua sebenarnya dipanggil untuk menaruh hidup kita di tangan-tangan Yesus dan menaruh kepercayaan bahwa Dia akan memperhatikan setiap kebutuhan kita. Semakin kita belajar mengenai kebenaran fundamental ini, semakin efektif kiranya kita dalam melaksanakan panggilan kita untuk mengasihi dan melayani sesama kita.

DOA: Tuhan Yesus, datanglah dan berdiamlah dalam diri kami. Biarlah hidup-Mu dalam diri kami bertumbuh sehingga dengan demikian kami dapat menjadi lebih serupa dengan-Mu. Tolonglah kami mencari Engkau dalam doa agar kami dapat belajar menaruh kepercayaan kepada-Mu untuk segala kebutuhan kami. Tolonglah kami untuk senantiasa mewartakan Kabar Baik-Mu kepada orang-orang lain secara cuma-cuma. Amin.

Cilandak, 18 Juni 2011
Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Posted in Buletin, Renungan Harian | Tinggalkan komentar

MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KABAR SUKACITA, Jumat 25 Maret 2011)

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38)
Bacaan Pertama: Yes 7:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-11; Bacaan Kedua: Ibr 10:4-10 Continue reading

Posted in Buletin, Renungan Harian | Tinggalkan komentar

SEMOGA KELAK KITA DIDAPATI OLEH-NYA SEBAGAI PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG BAIK

Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Perpetua dan Felisitas, Martir, Senin 7-3-11

Mark 12 1-12

Mark 12 1-12

Lalu Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan, “Ada seseorang membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian Ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. Kemudian ia menyuruh lagi seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang lagi seorang hamba lain, dan orang ini mereka bunuh. Demikian juga dengan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Masih ada satu orang lagi padanya, yakni anaknya yang terkasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi baru penjuru: Hal ini terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena tahu bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak. Mereka membiarkan Dia, lalu mereka pergi. (Mrk 12:1-12)

Bacaan Pertama: Tob 1:1a,2a,3;2:1b-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-6 Continue reading

Posted in Buletin, Renungan Harian | Tagged , , | Tinggalkan komentar

Adakah orang yang Akan Mendoakan Kita ?

Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke. Sudah 7 malam dirawat diRS di ruang ICU. Di saat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam du nia roh seorang malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.

Malaikat memulai pembicaraan, ‘Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup. Dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal du nia !
‘Kalau hanya mencari 50 orang, itu mahgampang .. . ‘ kata si pengusaha ini dengan yakinnya. Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.
Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya; dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, ‘Apakah besok pagi aku sudah pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit’.

Dengan lembut si Malaikat berkata, ‘Anakku, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 60 menit lagi. Rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu’. Continue reading

Posted in Buletin, Renungan Harian | Tinggalkan komentar

Identitas Yesus dan Yohanes Pembaptis

12 Desember 2010
50/Th.A/I/10

Identitas Yesus dan Yohanes Pembaptis

Orang terkenal/ngetop biasanya menjadi sasaran pemberitaan media massa. Umumnya orang ingin sekali mengetahui kehidupan pribadi orang tersebut. Maka tidak heran banyak pemberitaan seputar orang ngetop, terlepas benar atau tidak benar. Perbedaan cara memandang ternyata menghasilkan perbedaan pendapat yang tajam dan harapan yang besar ternyata mempengaruhi cara pandang seseorang.
Bahkan orang sekaliber Yohanes Pembaptis pun masih mengajukan ‘keraguan’ kepada Yesus, “ Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?”

Pertanyaan ini muncul karena Yohanes Pembaptis membayangkan Mesias yang akan datang layaknya seorang ‘tangguh’ yang menghabiskan nyawa orang berdosa karena murka Allah. Justru Yesus menampilkan sikap lemah lembut, murah hati terhadap kaum miskin dan para penderita. Tantangan bagi Yohanes Pembaptis! Ia mesti menembus masuk ke dalam wahyu kasih yang tampak dalam kerendahan hati dan kelembutan Yesus. Continue reading

Posted in Buletin, Warta Paroki | Tagged | Tinggalkan komentar

TERIAKAN SANG NABI

05 Desember 2010 49/Th.A/I/10

Yohanes Pembaptis

Yohanes Pembaptis

Saudara-saudari seiman,

Rahmat “penantian” berjalan dengan pasti sehingga tidak terasa sudah memasuki Minggu Adven II. Sumber inspirasi permenungan adalah Injil Matius 3:1-12. Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”(ayat 2). Seorang nabi adalah man of God, pribadi yang sangat  dekat dengan Tuhan. Yohanes Pembaptis adalah nabi yang menyuarakan suara Tuhan Allah. Untuk menjadi “juru bicara” Tuhan Allah, seorang nabi harus “fuga mundi”, lari dari dunia. Artinya bahwa seorang nabi harus “menjaga jarak” dari kehidupan dunia agar bisa melihat situasi dunia dengan jelas dan dapat mendengarkan suara Tuhan Allah dengan jelas sehingga menjadi jelas apa yang harus disuarakan. Suara siapa yang anda suarakan, dan apakah isi dari suara itu?

Teriakan Yohanes Pembaptis mengajak kita untuk bertobat. Tujuan dari pertobatan ini adalah agar kita layak dan pantas untuk menyambut Sang Emmanuel. Pertobatan adalah proses ”bercermin” untuk melihat diri  dan menyadari betapa besar kasih Allah kepada kita. Langkah awal ini didasari dengan sikap pengakuan akan kelemahan-kelemahan dan ketidakpantasan kita ”bertemu muka” dengan Sang Emmanuel, ”Dan aku tidak layak melepaskan kasutNya” (ayat 11). Pertobatan, metanoia adalah mengubah hati, mengganti haluan hidup.  Continue reading

Posted in Buletin, Ibadat, Warta Paroki | Tagged , , | Tinggalkan komentar

Waspadalah Dan Berjagalah Menyambut Kedatangan Anak Manusia

28 Nopember 2010 48/Th.C/II/10

Saudara-saudari yang terkasih,
Waspada bisa berarti berhati-hati, berjaga, bersiap-siaga, sedangkan berjaga bisa berarti bertugas menjaga (misalnya: menunggui saudaranya sakit, maka tidak tidur).

Secara nalar bisa dikaitkan dengan kesadaran, menaruh perhatian, hati-hati dan penuh pertimbangan, contoh: “Ingatlah sakit, selagi Anda sehat! Ingatlah bangun, selagi Anda beranjak ke tempat tidur. Ingatlah saat-saat kematian, selagi Anda masih berpijak di bumi ini. Ingatlah berdoa, sebelum Anda didoakan!”. Ungkapan di atas saya hubungkan dengan Injil Minggu Adven I ini: “Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak manusia datang pada saat yang tidak kamu duga” (Mat 24:44)

Matthew 24:32-25:46

Berjaga-jagalah

Continue reading

Posted in Buletin, Ibadat, Warta Paroki | Tagged | Tinggalkan komentar

NILAI KEHIDUPAN UNTUK KEHIDUPAN KEKAL

07 Nopember 2010 45/Th.C/II/10

Bapak/Ibu yang terkasih,

Mari kita renungkan ilustrasi berikut: “Ada sebatang pohon besar tumbang di tengah jalan, akibat angin puting beliung!” Pejalan kaki berkomentar: “Batang pohon ini menghalangi jalan!”. Pembuat batu-bata berkomentar: “Sayang pohon ini, kalau dibelah-belah bisa untuk membakar batu-bata!”. Komentar tukang pembuat meubel: “Sayang sekali kayu ini, kalau digergaji, bisa untuk: lemari, meja, prabot rumah tangga, dll!”

Dari ketiga komentatores terhadap satu obyek, penilaiannya sudah berbeda-beda. Komentar yang bernilai: “diolah dan dimanfaatkan secara baik, ternyata memiliki “nilai kehidupan bagi manusia!”. Continue reading

Posted in Warta Paroki | Tagged , | Tinggalkan komentar